0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Geopark Menjadi Andalan Pariwisata Berbasis Alam

geoenergi.co.id
ilustrasi wisata karst (geoenergi.co.id)

Timlo.net – Status geopark dari sebuah kawasan geologi berpotensi meningkatkan daya tarik destinasi wisata. Konsep geopark berpotensi menghadirkan pendapatan yang signifikan.

Di Indonesia, manfaat ekonomi juga sudah dirasakan kawasan Pegunungan Sewu, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Pada 2011, Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang dihasilkan dari sejumlah destinasi wisata karst di lokasi tersebut baru sekitar Rp 800 juta.

Namun, setelah ditetapkan sebagai kawasan geopark global dunia, pendapatan aslinya meningkat menjadi Rp 22,5 miliar. Angka itu belum termasuk potensi pendatan dari kawasan UNESCO Global Geopark (UGG) Gunung Batur (Bali) serta empat Geopark Nasional (GN) Kaldera Toba (Sumatera Utara), GN Merangin (Jambi), GNCileteuh (Jawa Barat),dan GN Rinjani (Lombok, NTB), yang baru dinominasikan menjadi kawasan UNESCO Global Geopark (UGG).

“Wisatawan mancanegara tertarik berkunjung ke Indonesia karena potensi yang dimiliki berupa alam sebesar 35 persen, budaya 60 persen, dan manmade 5 persen. Potensi alam sebesar 35 persen kita kembangkan sebagai wisata bahari 35 persen, wisata ekologi 45 persen, dan wisata petualangan 20 persen. Di dalamnya termasuk geopark,” tutur Menteri Pariwisata, Arief Yahya di Jakarta, kemarin.

Dia menegaskan, dilihat dari sudut pengembangan wisata, status geopark dapat menjadi branding pada sebuah destinasiyang berdampak signifikan untuk mengangkat citra dan popularitas sebuah kawasan.

“Terlebih pengembangan sektor pariwisata menjadi salah satu prioritas utama pada pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla,” ungkapnya.

Konsep manajemen pengembangan kawasan wisata alam dengan prinsip konservasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat melalui pariwisata, menurut Arief Yahya, sudah menjadi perhatian masyarakat dunia.

UN-WTO bahkan secara khusus menjadikan sebagai tema dalam peringatan Hari Pariwisata Dunia 2015 dengan One Billion Tourists, One Bilion Opportunities.

“Itu membuat kontribusi pariwisata terhadap PDB nasional diprediksi bakal terus meningkat. Dari 9,5 persen pada 2014 menjadi 15 persen pada 2019 mendatang,” ungkapnya.

Dari tahun ke tahun, peringkat Indonesia terus naik. Pada 2013, peringkat daya saing Indonesia ada di posisi 70. Sementara di 2015, peringkatnya terkatrol hingga posisi 50 dunia dari 141 negara.

Arief Yahya mengatakan, Indonesia perlu melakukan bechmarking dengan Tiongkok maupun Korea yang berhasil mengembangkan geopark. Dari paparannya, Tiongkok berhasil mengembangkan Yuntaishan Geopark dengan sangat baik.

Pada tahun 2000, Yuntaishan Geopark baru dikunjungi 200 ribu wisatawan, meningkat menjadi 1,25 juta wisatawan dengan perolehan devisa sebesar USD 90 juta pada 2004. (*)

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge