0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Pasca Gempa, Budaya Gotong Royong Kian Luntur

dok.timlo.net/aditya wijaya
Monumen Lindu Gede yang ada di Desa Towangsan, Kecamatan Gantiwarno, Klaten (dok.timlo.net/aditya wijaya)

Klaten — Sudah 10 tahun gempa berlalu. Banyak rumah penduduk, termasuk kantor pemerintahan di Kecamatan Gantiwarno, Klaten kembali berdiri. Meski aktivitas masyarakat kembali normal, namun budaya gotong royong justru semakin luntur.

“Ekonomi, pertanian, rumah, sudah pulih. Karena bantuan dari pusat, swasta, hingga APBD banyak. Tapi dampak pasca gempa malah soal sosial, yakni kegotong royongan menurun,” ujar Ketua Badan Permusyaratan Desa (BPD) Towangsan, Kecamatan Gantiwarno, Wening Swasono, Kamis (26/5).

Mundur ke belakang, menurut dia, 10 hari pertama gempa pengorganisasian dilakukan masing-masing RW. Badan Kesatuan Bangsa Poitik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpol Linmas) sebagai garda terdepan layaknya tugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) saat ini, kala itu mati kutu. Mereka kebingungan mengumpulkan data.

“10 hari pertama inisiasi koordinasi bagaimana mengeluarkan korban reruntuhan, mendapatkan makanan, tenda darurat, justru dilakukan masyarakat. Aparat pemerintahan maupun Kesbangpol, yang saat itu BPBD belum ada, kebingungan. Tapi setelah itu bantuan mengalir, koordinasi lebih terorganisir, dan tertata,” tutur Wening.

Meski berbagai bantuan kemanusiaan terus mengalir, seperti rehabilitasi rumah Rp 10 juta- 30 juta, jatah hidup, hingga padat karya, dia berpendapat, ada penyimpangan dibaliknya. Ada oknum yang bermain mata ditengah distribusi bencana.

“Manusiawi. Menumpuk atau menimbun bantuan karena distribusi dirasa tidak merata. Orang-orang penting yang memiliki akses, menerima banyak bantuan,” ucap dia.

Hal itulah, lanjut Wening, yang membuat budaya gotong royong di masyarakat semakin surut. Sebab, masyarakat kecil mencatat dan mengingat penyimpangan itu.

“Karena dulu masih ada kerja model padat karya, orang mau mengeluarkan tenaganya kalau dibayar. Sekarang untuk membersihakan parit di sawah, sungai, kalau tidak digerakkan dan dihitung dengan uang, masyarakat tidak bergerak. Kecenderungan masyarakat menjadi individul karena pembagian bantuan juga individul. Mereka mengingat itu,” ungkap Wening yang juga pegiat pertanian.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge