0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Banyak Kasus Kekerasan Seksual Tidak Dilaporkan

dok.merdeka.com
(Ilustrasi) (dok.merdeka.com)

Wonogiri — Data dari Badan Keluarga Berencana Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Perempuan (BKBKSPP) Wonogiri menyebutkan, angka  kasus kekerasan berbasis anak dan perempuan terus mengalami peningkatan. Di tahun 2015, tercatat sebanyak 51 kasus, dan di 2014 ada 46 kasus

“Untuk 2016 ini, sudah ada 26 kasus, itu yang dilaporkan, tapi kemungkinan yang tidak dilaporkan juga lebih banyak,” ujar Kepala BKBKSPP Wonogiri, Reni Ratnasari, Jumat (27/5).

Di 2015,  paling menonjol adalah kasus kekerasan seksual terhadap anak mencapai 38 kasus. Disusul kekerasan dalam rumah tangga lima kasus, penelantaran tiga kasus, kekerasan fisik terhadap anak dua kasus, serta kekerasan fisik terhadap orang dewasa, pelecehan seksual disertai pembunuhan, dan persetubuhan disertai pembunuhan masing-masing satu kasus. Sedang penyebarannya, terjadi di 17 kecamatan dari 25 kecamatan yang ada di Wonogiri.

“Dari hasil analisa kami,penyebab tingginya kasus  kekerasan seksual terhadap anak dan perempuan yang terjadi di Wonogiri ada beberapa faktor. Diantaranya karena pengaruh kultur budaya, banyaknya warga yang boro, minimnya bimbingan rohani,moralitas yang semakin menurun, faktor kemiskinan dan paling parah yakni dampak era globalisasi,” katanya.

Melalui telepon selulernya, Reni menyebut, kultur budaya Wonogiri selama ini dan faktor boro berpengaruh tinggi sebagai pemicu kasus kekerasan seksual terhadap anak dan perempuan. Tak hanya itu, dampak globalosasi moderen juga sangat berpengaruh besar. Menjamurnya warnet 24 jam, dimana dari hasil temuannya ada beberapa warnet yang masih menyediakan konten-konten atau pun situs porno. Bahkan di dalam warnet pernah ditemukan anak usia SD sedang merokok. Ironisnya, pemilik warnet tidak mampu melarang hal itu ,demi alasan bisnis.

Selama ini,bimbingan rohani pun juga sangat minim,utamanya di kalangan pelajar.Dimana dalam satu minggu disekolah,mereka hanya mendapat bimbingan rohani maksimal dua jam.

“Ketika kedua orang tua boro, si anak dititipkan pada neneknya, sehingga bimbingan maupun perhatian kurang, tapi di sisi lain mereka diperhatikan dari segi materi,tapi kasih sayang mereka kurang, sehingga dengan materi yang ada, anak-anak ini mampu mengetahui hal-hal seharusnya belum saatnya mereka tahu, apalagi tanpa bimbingan orang tua,” katanya.

Selain menggencarkan sosialisasi, upaya lain pun ditempuh seperti menggandeng polisi, dan Satpol PP untuk melakukan sidak di tempat-tempat yang diduga kerap menjadi ajang mesum. Bahkan upaya ini telah dilakukan pihaknya sejak tahun 2009 silam.

“Setiap ada rapat koordinasi dengan SKPD di Wonogiri ini kita selalu memberikan masukan. Dimana kita berharap jam belajar dihidupkan lagi,bahkan kalau perlu dibuat jam mengaji. Sehingga anak-anak tidak bisa keluyuran seenaknya tanpa ada kontrol,” jelasnya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge