0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Wanita Seksi Ini Tinggalkan Negaranya Untuk Berperang Melawan ISIS

Dok: Timlo.net/ Mirror.co.uk
Joanna Palani. (Dok: Timlo.net/ Mirror.co.uk)

Timlo.net—Seorang wanita muda pergi ke Suriah untuk berperang melawan kelompok teroris ISIS. Dia berbagi pengalamannya berada di garis depan peperangan salah satunya adalah jika para anggota ISIS begitu mudah dibunuh dan fakta mengerikan bagaimana anak-anak di sana dilecehkan secara seksual.

Joanna Palani berusia 22 tahun saat dia meninggalkan kehidupannya sebagai mahasiswi jurusan Politik untuk menjadi seorang prajurit Kurdi dalam perang yang menghancurkan negara itu, di mana dia berhadapan muka dengan muka dengan para militan pembunuh. Dengan keterampilan menggunakan senjata api, dia menghabiskan setahun melawan ISIS di garis depan, mengajari para gadis lain cara bertarung dan menyaksikan kebrutalan yang terjadi di medan perang.

Joanna sekarang sudah kembali ke negaranya dan berbagi cerita tentang pengalamannya berperang. Rupanya ada perbedaan sangat mencolok antara kelompok teroris ISIS dan pasukan Presiden Assad.

“Para petarung ISIS sangat mudah untuk dibunuh. Para petarung ISIS sangat bagus dalam mengorbankan hidup mereka di medan perang, tapi para prajurit Assad terlatih dengan sangat baik dan mereka merupakan mesin pembunuh terlatih,” katanya kepada Vice sembari tertawa.

Joanna, berasal dari Copenhagen, Denmark, meninggalkan kampusnya pada November 2014 untuk berperang demi “hak asasi manusia”. Pertama, dia menuju Irak lalu pindah ke Rojova di Suriah. Di negara itu, dia bergabung dengan People’s Protection Unit (YPG) selama enam bulan, sebelum bergabung dengan Peshmerga selama enam bulan.

Di malam pertama dia berada di garis depan, wanita muda itu menyaksikan sesuatu yang tidak dibayangkannya, rekannya ditembak mati oleh seorang sniper yang melihat asap rokoknya. Dia tanpa daya melihat rekannya prajurit dari Swedia mati, darah rekannya itu membasahi seragam Joanna. Dalam bulan-bulan berikutnya, gadis berambut pirang itu mengetahui jika dia memiliki bakat untuk menembak dan tetap tenang di saat bersamaan. Bakatnya itu sangat bermanfaat saat berhadapan dengan pasukan Assad yang memiliki persenjataan lengkap.

Joanna rupanya belajar menembak semenjak berusia 9 tahun. Dia mengajarkan keterampilan itu kepada para prajurit Kurdi muda. Para prajurit ini membuat dia terkesan dengan keberanian mereka sekalipun berhadapan dengan maut. Joanna sempat menerima surat-surat dari para gadis yang menjadi tawanan, menggambarkan bagaimana mereka diperkosa dengan brutal oleh para anggota ISIS dan sangat ingin melarikan diri.

“Walaupun saya seorang prajurit, sulit bagi saya membaca bagaimana seorang gadis berusia 10 tahun sekarat karena dia mengalami pendarahan setelah diperkosa,” katanya kepada Vice.

Pada awal 2015, Joanna terkejut saat menemukan sebuah rumah di sebuah desa di dekat Mosul, Irak, di mana para gadis muda dilecehkan dan dipinjamkan kepada para prajurit ISIS.

Dia berkata salah seorang korban, baru berusia 11 tahun. Dia hamil dengan bayi kembar karena perkosaan yang dialaminya dan akhirnya meninggal karena kehamilannya itu. Joanna sekarang berusia 23 dan kembali ke Denmark. Tiga hari berada di negara asalnya, polisi Denmark mengirim sebuah email jika passportnya tidak lagi berlaku dan jika dia kembali ke Suriah atau Irak, dia bisa dipenjara hingga enam tahun.

Hal ini karena hukum baru di negara itu untuk mencegah fanatis ISIS bergabung dengan kelompok teroris itu di wilayah-wilayah konflik. Joanna sekarang melanjutkan kuliahnya di jurusan politik dan filosofi di Copenhagen, Denmark. Tapi dia merasa telah mengecewakan para prajurit yang dia latih dan anak-anak korban pelecehan yang dia tinggal.

Editor : Ranu Ario

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge