0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Mengenang Gempa 2006, Sugeng: Gantiwarno Seperti Neraka

dok.timlo.net/aditya
Sugeng Hariyanto, mantan Camat Gantiwarno (dok.timlo.net/aditya)

Klaten — Sepuluh tahun lalu, gempa tektonik berkekuatan 5,9 Skala Richer (SR) mengguncang Yogyakarta dan Jawa Tengah (Klaten). Tak kurang dari satu menit, gempa yang terjadi pada pukul 05.55 WIB itu menewaskan ribuan jiwa dan luluh lantakkan ribuan bangunan.

“27 Mei 2006, Sabtu Wage. Ada gempa, padahal yang diprediksi saat itu Gunung Merapi yang sedang batuk,” ucap Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Klaten, Sugeng Hariyanto.

Kala itu, Sugeng masih menjabat sebagai Camat Gantiwarno sejak 2 November 2005. Di otaknya masih terekam jelas memori Gempa 2006. Pasalnya, wilayah yang berada di sisi selatan Kabupaten Klaten ini merupakan kecamatan yang terparah di Jawa Tengah akibat gempa yang berpusat di Laut Selatan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

“Bisa dibilang ajaib. Anak saya yang nomer dua masih bayi selama sepekan nangis terus jika tinggal (tidur) di rumah dinas kecamatan. Sehingga saat itu tak laju, kalau pagi di Gantiwarno, sorenya pulang ke Gombang, Cawas. Ternyata instingnya bayi kuat,” ujar Sugeng saat ditemui Timlo.net, awal Mei lalu.

Pada Sabtu (27/5/2006) pagi itu, Sugeng tidak menyangka Gantiwarno akan menjadi ‘neraka.’ Sebab, fokus para camat kala itu mengirim bantuan ke Kecamatan Kemalang yang berada di lereng Gunung Merapi.

“Bapak posisi di mana? Bapak segera ke Gantiwarno. Ini Gantiwarno sudah seperti neraka Pak. Enggak ada omah ngadek (berdiri),” ucap pria kelahiran 2 Oktober 1967 ini menirukan telepon dari Kepala Desa (Kades) Ngandong, Joko Daryono, yang mengabarinya pertama kali pasca gempa.

“Waktu ada lindhu, saya menyelamatkan anak saya yang besar. Sedangkan istri saya mendekap anak saya yang bayi. Pikir saya, itu gempa vulkanik (Gunung Merapi). Ternyata setelah ditelepon Kades Ngandong gempa tektonik. Beruntung kami tidur di Cawas, kalau tidur di Gantiwarno (rumah dinas kecamatan), saya sudah almarhum. Karena kantorku sudah ndekem (runtuh), semua peralatan kantor mulai dari inventaris alat jaman Belanda juga hancur semua,” kenang Sugeng Hariyanto.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge