0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Peringatan 10 Tahun Gempa Klaten, Gantiwarno Bangkit

dok.timlo.net/aditya wijaya
Kantor Kecamatan Gantiwarno setelah 10 tahun gempa (dok.timlo.net/aditya wijaya)

Klaten —  Sepuluh tahun gempa  berkekuatan 5,9 Skala Richer (SR) yang melanda wilayah DIY dan Klaten sudah berlalu. Berkat solidaritas uluran tangan pemerintah, negara tetangga, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan para relawan, kini Gantiwarno telah bangkit dari dukanya.

“Hampir 3 bulan saat masa tanggap darurat tidak pernah istirahat. Gusti Allah paring bebendhu, kanugrahan, awake dewe kudu kuat  (Tuhan memberikan godaan maupun kemuliaan, kita harus kuat),” ucap Sugeng Hariyanto, Camat Gantiwarno saat Gempa 27 Mei 2006.

Diceritakan, aktivitas pemerintahan dari kecamatan sampai 16 desa di Gantiwarno lumpuh total, termasuk padamnya listrik dan prasarana. Puluhan ribu rumah penduduk dilaporkan porak poranda serta ribuan nyawa melayang. Sementara, hampir 40 ribu penduduk Gantiwarno yang masih hidup, tidur beratapkan tenda.

Bahkan setiap kali rapat koordinasi, Sugeng Hariyanto yang kini menjabat Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Klaten ini tak canggung hanya mengenakan pakaian ala kadarnya. Mereka memaklumi. Bertemu Gubernur Jawa Tengah Mardiyanto yang saat itu berkantor sementara di Pabrik Gula Gondang Baru, Sugeng pun hanya berkaos oblong dan bersandal jepit.

Menurut dia, ketika terjadi bencana apapun rakyat jangan sampai kelaparan dan sakit. Rumah maupun gedung perkantoran, sekolah, boleh roboh. Tapi urusan perut harus diutamakan. Sebab jika bantuan makanan tidak merata, tak sedikit yang dihadang di jalan. Rakyat menjadi kanibal.

“Pendataan dilakukan selama dua pekan, lalu pekan ketiga cair. Pasalnya, rakyat meronta, nyuwun mangan, nyuwun tenda, opo ora nangis. Kalau rakyat kelaparan, bisa jadi kanibal. Jadi kalau bantuan datang siang, sore pasti tiba di RT. Mengirimnya diangkut satu pick up untuk empat desa, ditambah 2 tentara Kopassus yang ngawal. Macam-macam, didupak tenan,” tutur Sugeng.

Di sisi lain, dia juga tak menepis adanya oknum warga yang rakus. Mengaku belum menerima bantuan, ternyata saat di cek yang bersangkutan justru menimbun bantuan.

“Jeleknya itu. Pernah saya ditelepon Pak Bupati (Sunarna) ada warga yang diwawancarai suatu stasiun televisi yang mengaku beberapa hari belum terima bantuan. Begitu kita sambangi, ternyata di salah satu tendanya menimbun tumpukan mie berkardus-kardus yang ditutupi tikar. Mbok ayo, mboh kui sing agamane Islam, Nasrani, Hindhu, kalau ada bencana gugah atine dewe. Ibaratnya tahan dengan penderitaan, bukan justru menjelek-jelekan atau ngaku-ngaku kurang bantuan. Gantiwarno gumbregah, Gantiwarno bangkit,” tandas dia.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge