0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Kontras: Ada Kelalaian Negara, Jangan Lupakan Kerusuhan Mei!

Aksi mengenang kerusuhan Mei di kampus UNS, Kamis (26/5) | Ari Kristyono
(Aksi mengenang kerusuhan Mei di kampus UNS, Kamis (26/5) | Ari Kristyono)

Solo – Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) menyerukan agar kalangan muda tidak melupakan begitu saja kerusuhan Mei 1998 yang terjadi di sejumlah kota di Indonesia. Pasalnya, ada banyak tanggung jawab negara yang belum terselesaikan, terutama menyangkut hilangnya sejumlah orang yang hingga kini belum terungkap.

“Kerusuhan Mei 1998  terjadi 18 tahun lalu, saat kawan-kawan muda ini masih balita. Mereka tidak punya bayangan tentang apa yang terjadi, sehingga kami mengajak mereka untuk tour ke beberapa kota termasuk Solo yang saat itu intensitas kerusuhannya sangat parah,” tutur  relawan  Divisi Pemantauan Impunitas Kontras,  Tioria Pretty, Kamis (26/5).

Tour sehari di Solo, diikuti sekitar 50 mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Surakarta dan Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo. Mereka diajak berkeliling ke lokasi kerusuhan mulai dari kawasan kampus UMS, Boulevard UNS,  hingga berziarah ke makam Nugroho Iskandar alias Gilang di TPU Purwoloyo, Jebres.

Gilang adalah pengamen yang  aktif berunjuk rasa menuntut  Presiden Soeharto turun, dia hilang tepat sehari setelah Soeharto lengser. Mayatnya ditemukan tergeletak di lereng Gunung Lawu dengan sebuah luka kecil di dada kiri. Hingga saat ini, tidak diketahui kenapa Gilang hilang dan siapa pembunuhnya.

Di Solo, aktivis yang hilang di tahun 1998 selain Gilang ada Suyat dan penyair Wiji Thukul.

“Kita tidak boleh lupa, karena negara semestinya mengusut kasus-kasus orang hilang dan yang ditemukan tapi tewas seperti ini,” tandas Tioria.

Kamis malam ini, Kontras juga menggelar panggung seni di Gedung Juang 45 di kompleks Beteng Vastenburg Solo.

Editor : Ari Kristyono

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge