0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Tidak Hanya Fisik, Korban Juga Mendapat Perlakuan Tak Manusiawi

timlo.net/aditya wijaya
Wulan Triastuti memperlihatkan foto anaknya yang diduga dianiaya mantan kekasihnya (timlo.net/aditya wijaya)

Klaten — Tidak hanya menerima kekerasan fisik, Fr (5), balita asal Dusun/Desa Kwaren, Kecamatan Ngawen, diduga juga mendapat perlakuan tak manusiawi dari mantan kekasih ibu korban, SP. Balita Fr dipaksa menelan kotorannya sendiri dan meminum urine SP.

“Pada 2 Mei saat hendak memandikan, Fr mengaku sering mendapat perlakuan kasar dari SP. Pipi kanan memar karena ditampar, rambut dan telapak kaki disundut dengan korek api, telinga dan bibir digigit, kelopak mata dikucek, dan cekikan di pangkal leher,” ucap ibu korban, Wulan Tri astuti (32), Rabu (25/5).

Naluri keibuannya untuk mengorek perlakuan keji Fr selama tinggal di rumah SP sejak 28 April semakin bertambah. Saat ditanya lebih jauh, putra tunggalnya itu juga mengaku pernah disuruh memakan kotorannya sendiri.

“Katanya pas mau minta makan hanya dikasih sambel. Otomatis perut sakit lalu buang air besar. Nah kotorannya itu disuruh makan lagi. Dia juga mengaku disuruh minum kencingnya SP yang ditaruh di botol, anak saya muntah-muntah. Kalau menangis tangan dan mulut diplester,” ungkap Wulan menitikkan air mata.

Wulan sempat meminta keterangan SP mengenai perlakuan kasar kepada anaknya, namun hanya dijawab agar Fr tidak manja. Sehingga sejak 2 Mei Fr masih menginap di rumah SP di Dukuh Kemit, Desa Pepe, Kecamatan Ngawen karena diancam akan mengalihkan hak asuh Fr ke mantan suaminya. Akhirnya, pada 5 Mei Wulan dapat membawa putranya kembali ke kos setelah SP dan keluarganya mengajak rekreasi.

Disinggung soal awal perkenalan, dia mengaku, sudah berhubungan dengan SP sejak Oktober 2015. Wulan berstatus janda dengan anak satu setelah cerai dengan suaminya, Susanto. Sedangkan SP, menurut dia, juga telah cerai dengan istri terdahulu dan memiliki dua orang anak. Satu anak ikut SP, dan satunya lagi ikut mantan istri.

“Dulu saya kerja di pom bensin (SPBU) dekat rumah. Dari situ kenal SP, kemudian saya diminta keluar dari rumah dan keluar dari pekerjaan untuk kos di daerah Morangan, Kecamatan Klaten Utara. SP janji mau menikahi saya dan memberi nafkah setiap bulan. Ternyata dia hanya ingin nikah siri, janji menafkahi setiap bulan pun tidak ada. Saya hanya diberi Rp 100 ribu tiap minggu untuk hidup saya dan anak,” beber perempuan yang telah menjanda sejak 2011 ini.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge