0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Sadranan, 900 Tenong Makanan Disiapkan untuk Pengunjung

dok.timlo.net/nanin
Ribuan masyarakat Desa Sukabumi,Cepogo,mengelar tardisi sadranan (dok.timlo.net/nanin)

Boyolali —  Memasuki bulan Ruwah, masyarakat lereng Gunung Merapi-Merbabu mengelar tradisi sadranan. Di Dusun Tunggulsari, Desa Sukabumi, Kecamatan Cepogo, Boyolali, ribuan masyarakat memenuhi pelataran makam desa setempat. Bagi masyarakat sekitar, mereka datang sambil membawa tenong yang berisi makanan.

Meski matahari belum sepenuhnya nampak, namun warga Sukabumi sudah berduyun-duyun menuju ke Makam Tunggulsari. Mereka datang sambil membawa makanan yang ditaruh dalam tenong. Setelah itu, tenong-tenong berisi makanan tersebut dijajar rapi di halaman makam.

Sementara di sudut utama makam, berdiri panggung yang berisi ulama dan tokoh masyarakat yang terus membacakan dzikir dan tahlil. Usai membacakan dzikir, masyarakat kemudian membagikan makanan ke para pengunjung. Bagi warga,bila makanan yang dibawa habis diserbu pengunjung, rejeki mereka akan lancar.

“Kepercayaan di sini seperti itu,” kata Warjo, warga setempat.

Sayangnya, biasanya makanan yang dibawa akan dimakan di makam usai dzikir. Namun, tahun ini, beberapa pengunjung terlihat membawa kantong plastik untuk wadah makanan. Pengunjung yang datang tidak hanya dari masyarakat di sekitar namun juga dari luar.

“Biasanya yang merantau pada pulang, kalau orang menyebutnya sadranan bakdonya orang gunung,” imbuh Warjo sambil tertawa.

Sementara itu menurut tokoh masyarakat, Suparno, tradisi sadranan ini untuk mendoakan leluhur yang telah meninggal. Disamping juga sebagai sarana sodaqoh bagi masyarakat sekitar. Diakui, tahun ini, jumlah masyarakat yang ikut berpartisipasi meningkat. Tercatat ada 900 tenong, tahun sebelumnya hanya 700 tenong.

“Ini menunjukkan masyarakat makin sejahtera,” tandasnya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge