0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Guru BK Harus Terhindar dari Tujuh Kesalahan Ini

HMPS BK Unisri menggelar seminar nasional (dok.timlo.net/tyo eka)

Solo — Himpunan Mahasiswa Program Studi Bimbingan Konseling (HMPS BK) Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta, Selasa (24/5) bertempat di Ruang Seminar Lantai III,  menggelar  seminar nasional “Menyiapkan Calon Guru Bimbingan dan Konseling yang Berdaya Saing Global Guna Menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)“.

Seminar  diikuti 150 peserta, terdiri  para mahasiswa, dosen, guru dan masyarakat umum, menghadirkan narasumber, Pengurus Asosiasi Bimbingan Konseling (ABKIN) Ali Murtadho dan Ketua Program Studi Bimbingan Konseling Unisri, Hera Heru.

“Agar bisa bersaing di era MEA, justru yang sering diabaikan adalah pembentukan dan pengembangan karakter,” ungkap Wakil Rektor Unisri Bidang Akademik, Rispantyo saat membuka seminar.

Padahal karakter merupakan pondasi utama memasuki era persaingan. Tidak cukup hanya mengandalkan pintar semata, pintar tanpa memiliki karakter, akan tersingkir dalam kompetesi  dunia kerja. “Khususnya para mahasiswa dan tenaga pendidik, tidak cukup bila hanya memiliki kepandaian dan kecerdasan semata,” tandasnya.

Sementara itu, Hera Heru mengatakan, untuk bisa bersaing di era global, guru Bimbingan Konseling (BK) harus menguasai tehnologi informasi. melakukan ragam e-Counseling sebagai  metode konseling melalui media teknologi telekomunikasi seperti telepon, WA, internet, email, chatting dan telekonference.

Ditambahkan, guru BK Profesional harus terhindarkan dari tujuh kesalahan yang sering terjadi. Yaitu mengambil jalan pintas dalam melakukan bimbingan konseling, menunggu peserta didik berperilaku negatif, menggunakan destructif disiplin, mengabaikan perbedaan peserta didik, merasa paling pandai, tidak adil, dan memaksa hak peserta didik.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge