0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Pemkot Diminta Menggiring Investor ke Solo Utara

timlo.net/ichsan rosyid
Pemkot Solo beri lampu hijau untuk Robinson Department Store di Kawasan Purwosari meski berdiri di dekat pasar tradisional (timlo.net/ichsan rosyid)

Solo – Kalangan dewan berkomentar tekait pengoperasian pusat perbelanjaan Robinson yang terintegrasi dengan Hotel Swiss Belinn Saripetojo. Mereka berpendapat, sepanjang Jalan Slamet Riyadi telah menjamur pusat perbelanjaan modern. Seharusnya, Pemkot memenuhi komitmen untuk memeratakan pembangunan merata di Kota Solo.

“Jangan cuma di tengah kota saja mall dan hotel dibangun. Solo utara juga harus sama,” kata Ketua DPRD Kota Solo, Teguh Prakosa, Selasa (24/5).

Menurutnya, di tengah Kota Solo telah berjubel bangunan mall dan hotel. Ini mengakibatkan, persaingan bisnis tersebut makin ketat.

Di sisi lain, pasar tradisional yang berada di tengah Kota Solo mulai terpinggirkan akibat adanya pusat perbelanjaan modern. Ini artinya, Pemkot harus lebih selektif dalam mengeluarkan ijin terkait operasional toko modern di Kota Bengawan.

“Lihat saja, bagian barat Robinson itu kan ada Solo Squre. Timurnya, ada Grand Mall. Kalau dilihat hotelnya, sudah banyak sekali,” terang Teguh.

Meski begitu, politisi Partai PDI Perjuangan ini tidak langsung menyalahkan Pemkot dalam hal penerbitan ijin bangunan. Pasalnya, proses perijinan pendirian hotel maupun pusat perbelanjaan di Kota Bengawan bisa jadi dilakukan oleh Walikota sebelum Hadi Rudyatmo. Jika itu yang terjadi maka semestinya perlu langkah yang lebih bijak dalam mengatasi polemik tersebut.

“Ada yang ijinnya sudah terbit malah belum dibangun hotelnya,” ungkap Teguh.

Sebelumnya diberitakan, pusat perbelanjaan yang beroperasional di Swiss Belinn Saripetojo di Purwosari dinilai kalangan legislatif melanggar Perda Kota Solo. Tak tanggung-tanggung, dua Perda bahkan dilanggar sekaligus yakni Perda Nomor 8/2009 tentang Bangunan dan Perda Nomor 1/ 2010 tentang Pengelolaan dan Perlindungan Pasar.

Dilihat dari perjinannya, kawasan bisnis Swiss Belinn yang diresmikan pada 15 Desember tahun lalu itu memperoleh ijin sebagai hotel. Namun dalam perkembangannya, di lokasi yang sama juga akan dibuka pusat perbelanjaan Robinson milik PT Jakarta Intiland atau satu group dengan Ramayana.

Penambahan pemanfaatan tersebut dianggap oleh kalangan dewan sebagai pelanggaran Perda Nomor 8 Tahun 2009 tentang bangunan. Legislator juga menyoroti lokasi dibukanya pusat perbelanjaan modern yang berada tidak jauh dari pasar tradisonal yang ada di kawasan itu. Praktis ada satu Perda lagi yang dilanggar yaitu Perda Nomor 1 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Perlindungan Pasar.

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge