0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Begini Kisah Hidup Yohana ’Darsi’ Pudyorini

Rusini, putri dari Alm Darsi (timlo.net/heru murdhani)

Solo — Dunia kesenian tradisional Kota Bengawan berduka atas meninggalnya seniman tari senior Yohana ’Darsi’ Pudyorini pada Minggu (15/5). Wanita yang sempat menjadi sosok primadona Wayang Orang Sriwedari (WOS) meninggal sekitar pukul 03.00 WIB dalam usia 83 tahun.

“Meninggal karena memang sudah sepuh, dan memiliki penyakit yakni luka di bagian pinggang bawah. Luka ini sudah merebak kemana-mana sehingga tubuh sudah tidak kuat lagi,” salah satu putri almarhumah, Rusini.

Kepada Timlo.Net, Rusini menceritakan perjalanan kesenian dari seorang Yohana ’Darsi’ Pudyorini. Darsi semenjak kecil tak tinggal bersama kedua orang tuanya. Darsi dititipkan kepada saudara dari orang tuanya.

Saat Darsi tinggal di sekitaran taman Balekambang, Kecamatan Banjarsari. Darsi kecil kerap mendengarkan gending-gending yang berasal dari pertunjukan kethoprak yang ada di sana. Timbul ketertarikan dalam diri Darsi kecil untuk sekedar mencicip ilmu dari kesenian Kethoprak.

“Namun hal itu tidak pernah terjadi, karena harus pindah ke rumah saudara yang lain,” kata Rusini.

Namun takdir berpihak pada Darsi, kepindahannya dari kawasan Balekambang, justru membawa dirinya lebih dekat dengan gending dan tari, lantaran rumah saudara yang di tempatinya berada di kawasan Sriwedari, Kecamatan Laweyan. Darsi kecil akhirnya belajar menari untuk pertama kali dalam hidupnya di Sriwedari.

“Pertama kali belajar ya di Sriwedari itu. Sejak kecil belajar di situ, hingga terlihat bakatnya dan kemudian diminta untuk menjadi ekstra dalam pertunjukan WOS,” paparnya.

Pertunjukan ekstra yang dimaksud adalah pertunjukan pembukaan dalam suatu pementasan Wayang Orang. Kepiawaian Darsi kecil, dan keinginannya yang begitu besar akhirnya membawanya masuk lebih jauh kedalam dunia Wayang Orang.

“Akhirnya Ibu ikut ke dalam WOS. Itupun tidak langsung jadi penari, Ibu lebih dulu ngangsu kawruh (Belajar – Red) kepada penari senior, caranya dengan membantu menatakan pakaian untuk pentas, dan lainnya, sambil nonton wayang dan belajar tembang,” paparnya.

Nasib mempertemukan Darsi dengan Roesman Harjowibakso. Sama-sama bergelut di dunia tari, dan sering berpasangan dalam tari Gatutkaca Gandrung, akhirnya benih cinta tumbuh di antara mereka. Sebagai puncaknya Roesman akhirnya menikahi Darsi pada 1946.

Keberuntungan tampaknya selalu berpihak pada Darsi. Presiden pertama RI, Bung Karno kesengsem dengan tarian gagah dari Roesman. Roesman kerap dipanggil ke Istana Negara untuk menari di hadapan Sukarno dan tamu-tamu negara. Hal ini membuat Darsi turut serta dalam beberapa fragmen tari yang dibawakan Roesman.

“Kalau Bapak itu hampir setiap tahun diundang Bung Karno ke Istana, nah kalau Ibu hanya beberapa kali saja, ikut Bapak menari,” kenang Rusini.

Begitu legendarisnya tari kasmaran antara Pregiwa yang diperankan Darsi dan Gatutkaca yang dibawakan Roesman dalam Gatutkaca Gandrung, menginspirasi pembuatan patung sebagai icon WOS, pada awal 1980. Pada awal pembuatannya patung tersebut diletakkan di area lobi gedung wayang. Namun dalam perkembangannya patung itu akhirnya dipindah ke depan Pendapa Sriwedari. Hingga sekarang patung itu masih bisa dinikmati kemegahannya jika berkunjung ke Taman Sriwedari.

“Patung itu dibuat berdasarkan foto dari Ibu dan Bapak,” imbuh dia.

Semangat Darsi dalam berkesenian tak pernah padam. Hal ini dibuktikan dengan penampilannya di salah satu grup Wayang Orang di Jakarta, pada tahun 2005, dalam usia 72 tahun.

“Nama Ibu dan Bapak sebenarnya hanya Darsi dan Roesman saja. Nama tambahan yang dibelakang itu merupakan anugrah dari Keraton Kasunanan Surakarta, sebab WOS kan dulu milik Keraton,” kata Rusini mengakhiri perbincangan dengan Timlo.Net.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge