0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Makna Trisula pada Solo Keroncong Festival 2016

Orkes Keroncong Tunanetra asal Solo menjadi penampil pertama dalam pembukaan SKF 2016 di Latar Barat Benteng Vastenburg, Sabtu (14/5). (foto: Rosyid)

Solo – ­ Trisula Keroncong Mendunia, demikian tema yang diangkat dalam pergelaran Solo Keroncong Festival (SKF) 2016. Ternyata ada makna di balik pemilihan trisula sebagai tema acara yang dibuka di Latar Barat Benteng Vastenburg, Sabtu (14/5) itu.

“Trisula itu melambangkan tiga macam musik keroncong yang kita pilih sebagai sajian utama SKF kali ini,” kata Ketua Panitia, Ari Mulyono dalam acara pembukaan.

Tiga macam tersebut adalah keroncong asli, keroncong asli, keroncong orkes, dan keroncong kreasi modern. Keroncong asli, terangnya, merujuk pada keroncong yang berkembang pada tahun 1950­an dengan formasi tujuh orang. Penampilan pembuka oleh Orkes Keroncong Tunanetra dalam acara pembukaan SKF merupakan termasuk dalam kategori ini.

“Pemain cello, bas, biola, cak, cuk, gitar, dan flute. Itu keroncong yang pertama kali yang dimainkan Radio Orkes Surakarta pada tahun 1940­an sampai 1950­an,” terangnya.

Selain orkes asli, SKF juga menampilkan keroncong orkesta yang terdiri dari orkestra dengan pemain dalam jumlah besar. Orkes Keroncong Gita Abadi asal Tulungangung misalnya, penyaji kedua SKF 2016 itu terdiri dari 28 pemain dengan alat musik yang sama dengan keroncong asli.

Sementara keroncong kreasi modern merupakan percampuran keroncong dengan musik modern. Alat musik yang digunakan pun lebih variatif.

“Bisa menggunakan organ, drum, gitar listik, dan lain­lain. Sekarang jenis keroncong ini banyak berkembang,” kata dia.

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge