0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Warga Diminta Jangan Buang Sampah ke Sungai

​Suasana FGD Memetri kali di Pusdiklat UNS (foto: Rosyid)

Solo – Kelompok Kerja (Pokja) Program Kali Bersih (Prokasih) di berbagai kelurahan di Solo terus berupaya menjaga kelestarian sungai di Kota Bengawan. Salah satu upaya yang digalakkan adalah dengan meminimalisir sampah rumah tangga yang dibuang ke sungai.

“Kami upayakan agar warga tidak membuang sampah ke sungai. Sampah anorganik kita arahkan agar ditabung di bank sampah,” kata anggota Pokja Porkasih Kelurahan Semanggi, Hening, dalam acara Focused Group Disucussion (FGD) Memetri Sungai yang diselenggarakan Jurusan Sosiologi FISIP UNS di Pusdiklat UNS, Sabtu (14/5).

Ia mengklaim selama ini warga cukup kooperatif. Meski masih ada saja yang membuang sampah ke sungai, jumlahnya tidak signifikan. Itu pun sudah diantisipasi dengan adanya seorang petugas kebersihan khusus siap membersihkan sungai setiap hari.

Meski selama ini bank sampah sudah berjalan, pihaknya belum mendapatkan solusi jitu untuk menangani sampah organik. Selama ini, warga hanya membuang sampah ke tempat sampah begitu saja.

“Kita sedang upayakan 4 ribu komposter untuk warga. Jadi mereka bisa mengolah sampah organik di rumah masing-masing,” kata dia.

Sementara itu, kondisi di Kelurahan Pasar Kliwon cukup berbeda. Menurut Ketua Pokja Prokasih Kelurahan Pasar Kliwon, Hargyo, kepedulian warga terhadap sungai masih sangat minim.

Selain itu, ajakan untuk kerja bakti membersihkan sungai Jenes yang melintas kelurahannya itu tak pernah mendapat respon positif.

Bank sampah di Pasar Kliwon pun dirasa belum berjalan optimal. Akibatnya, volume sampah rumah tangga belum berhasil ditekan.

“Sayang sekali. Padahal sungai-sungai di wilayah itu punya aspek religi dan historis yang kuat. Seharusnya warga peduli,” keluhnya.

Permasalahan bank sampah juga dihadapi Kelurahan Sondakan. Sempat berjalan beberapa waktu, semangat pengelola bank sampah di kelurahan itu kemudian kendur karena hasil yang tidak seberapa.

“Sekarang masih berjalan. Tapi ya tidak maksimal,” kata warga Sondakan, Hernot.

Sementara itu, Dosen Sosiologi UNS, Ahmad Ramdhon mengapresiasi upaya pelestarian sungai oleh pokja di berbagai kelurahan itu.

Kendati demikian, ia mengajak pengelola pokja untuk terus mengembangkan metode mereka dalam menggerakkan masyarakat agar peduli sungai.

“Kita harus banyak belajar dari komunitas-komunitas lain. Saya yakin banyak cara-cara kreatif yang bisa kita tiru atau kita modifikasi sesuai kondisi masing-masing tempat,” kata dia.

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge