0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Cerita Pembebasan Empat Sandera Versi Pangkostrad

(merdeka.com)

Timlo.net – Pangkostrad Letjen TNI Edy Rahmayadi menceritakan keterlibatan TNI dalam proses pembebasan empat warga negara Indonesia (WNI) yang disandera kelompok Abu Sayyaf.

“Memang disiapkan (operasi militer) komunikasi presiden perintahkan Menteri dan salah satunya panglima TNI. Saya pelaksana diperintahkan, ya saya ambil dan ya amankan,” kata Letjen Edy Rahmayadi di Lanud Halim Perdanakusuma, Jumat (13/5).

Pada hari Selasa (10/5), Letjen Edy Rahmayadi memerintahkan anak buahnya bersiap dan menyiagakan lima kapal tempur di Tarakan, Kalimantan Timur. Lokasi ini dipilih karena berdekatan dengan perairan Filipina. Edy menyebut, kapal KRI Surabaya dan KRI Ajak digunakan untuk membebaskan sandera.

“Saya H-3 sudah masuk perbatasan Filipina dan Indonesia, bahkan masuk zona ZEE, saya masuk perairan Pulau Data. Pulau Data pas di depan Pulau Sulu tempat WNI disandera,” kata dia.

Selama di Pulau Data, pihaknya selalu berkomunikasi dengan Angkatan Laut Filipina untuk menemukan titik koordinasi dan meminta dua KRI yang digunakan TNI diberikan ijin masuk ke Filipina.

Setelah itu, TNI dan kelompok Abu Sayyaf berkomunikasi untuk menentukan tempat penyerahan sandera.

“Ada dialog pasti ada, dialognya menentukan tempat yang satu minta di sana, yang satu minta di sini. Akhirnya saya menentukan tempat,” kata dia.

TNI memilih penyerahan sandera waktu pagi hari agar memudahkan strategi yang dijalankan.

“Kalau pagi kan lama ribut-ribut atau tembak-tembakan bisa panjang sampai sore,” kata dia.

[noe]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge