0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Peristiwa ’65, Membuat Sejarah Bangsa Indonesia Seakan Terputus

timlo.net/achmad khalik
seminar nasional bertajuk “Sanskerta” Semarak Sejarah Kebudayaan (timlo.net/achmad khalik)

Solo – Peristiwa tahun 1965 tidak mudah untuk dilupakan. Paska peristiwa kemanusiaan tersebut, Bangsa Indonesia seakan-akan terbawa menuju era baru yang sangat mempengaruhi kondisi saat ini. Baik dari sisi sejarah, kebudayaan hingga teknologi.

“Titik balik kondisi saat ini dipengaruhi pasca tragedy tahun ’65, baik itu segi sejarah, kebudayaan maupun teknologi,” terang Deputi IV Bidang Komunikasi Politik dan Desiminasi Informasi, Eko Sulistyo dalam seminar nasional bertajuk “Sanskerta” Semarak Sejarah Kebudayaan yang digelar di Auditorium Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Rabu (11/5).

Waktu itu, kata Eko banyak pelaku kebudayaan maupun tokoh pemikir yang menjadi korban tewas maupun dipenjara dengan cap ‘tahanan politik’. Sehingga, perkembangan Bangsa Indonesia maupun perkembangan kebudayaan menjadi tersendat. Disisi lain, sejumlah duta Bangsa Indonesia yang menempuh pendidikan di luar negeri enggan kembali lantaran masih dikait-kaitkan dengan faham komunis. Padahal, kedatangan mereka sangat diharapkan untuk membangun kembali negeri ini.

“Dampaknya masih terasa sampai saat ini,” kata Eko.

Eko menilai, peristiwa tahun ’65 seakan mengakibatkan terputusnya sejarah lampau Bangsa Indonesia. Hingga saat ini, seakan-akan Bangsa Indonesia kehilangan akar kebudayaan lantaran tidak adanya transfer pengetahuan kebudayaan dari generasi masa lalu kepada generasi saat ini.

Senada, Pendiri Padepokan Lemah Putih, Suprapto Suryodharmo berpendapat peristiwa tahun ’65 mengakibatkan banyaknya pemikir yang meninggal dunia. Sehingga, situasi saat itu ditangkap oleh pihak asing dengan menyebarkan pengaruhnya hingga saat ini.

“Maka dari itu, kecintaan anak muda dengan Bangsa Indonesia saat ini mulai luntur, karena pengaruh asing dan banyaknya peikir, budayawan dan sejarawan yang meninggal dunia waktu itu,” jelas Budayawan Solo tersebut.

Selain menghadirkan dua pembicara tersebut, dalam seminar yang diselenggarakan oleh Forum Mahasiswa Sejarah UNS tersebut juga menghadirkan Analis Kebijakan Migrant Care, Wahyu Susilo dan Staf Prodi Sejarah Fakultas Ilmu Budaya UNS Solo, Susanto.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge