0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Penerapan SSA, Legeslatif Meminta Kajian Menyeluruh

Perempatan Purwosari yang rencananya akan segera diterapkan Sistem Satu Arah pekan depan (timlo.net/ichsan rosyid)

Solo – Kebijakan Sistem Satu Arah (SSA) tahap dua yang menyasar Bundaran Purwosari hingga Perempatan Gendengan mendapat tanggapan beragam dari kalangan legislatif. Namun, kebanyakan dari mereka meminta Pemkot Solo untuk melakukan kajian secara menyeluruh terlebih dahulu sebelum menerapkan kebijakan tersebut.

“Yang kemarin (penerapan SSA tahap pertama-red) kajian ekonominya saja belum dipaparkan, lha kok ini sudah mulai memberlakukan SSA untuk jalan lainnya,” terang Ketua Fraksi PAN, Muhammad Al Amin kepada Timlo.net, Selasa (10/5).

Dikatakan, kebijakan yang dilakukan oleh Pemkot Solo justru menimbulkan masalah baru. Khususnya di jalan kampung maupun jalan alternatif lainnya yang dinilai overload dengan beban kendaraan. Kondisi jalan yang tidak begitu lebar, namun dipadati dengan berbagai macam kendaraan.

“Lihat saja di Jalan Samanhudi yang terletak di Kelurahan Mangkuyudan. Jalannya sempit, dan mendapat luberan kendaraan dari dampak SSA tiga ruas jalan dua bulan lalu. Apalagi ditambah dengan ini,” jelas Al Amin.

Penerapan SSA yang dilakukan selama ini, lanjut Amin, dinilai sangat otoriter. Seharusnya, Pemkot yakni Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kota Solo merangkul masyarakat terdampat SSA untuk diajak berdiskusi. Jika telah ditemukan kata sepakat, maka penerapan dapat dilakukan.

“Sebenarnya masyarakat mintanya gak banyak, cuman dilibatkan dalam urun rembug terkait penerapan kebijakan SSA,” tandas Amin.

Sementara itu, anggota Fraksi Partai Demokrat, Reny Widyawati berpendapat semangat yang dilakukan Dishubkominfo Kota Solo untuk mengurai kemacetan di Kota Bengawan patut diapresiasi. Namun, hendaknya mereka juga memikirkan sejumlah dampak terkait penerapan kebijakan yang mereka lakukan.

“Boleh saja diterapkan SSA, kami sangat hargai upaya keras mereka memecah kepadatan lalu lintas. Tapi, kalau bisa jangan 24 jam. Cukup dijam-jam sibuk sekitar pukul 06.00 pagi sampai 18.00 petang,” terangnya.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge