0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Bayu : Takut dan Tekanan Batin

timlo.net/aditya wijaya
Bayu Oktavianto, dua dari kiri berkalungkan handuk merah, usai membuang sial di Kali Pusur di belakang rumahnya (timlo.net/aditya wijaya)

Klaten — Paska pembajakan Kapal Brahma 12, Bayu Oktavianto (22) bersama sembilan awak kapal lainnya dibawa ke sejumlah lokasi persembunyian Kelompok Abu Sayyaf. Kendati diikat dan diborgol, mereka diperlakukan baik.

“Perlakuannya baik. Mereka juga sempat mengatakan, kalau perusahaan enggak bayar, kami dipotong kepalanya,” ujar Bayu Oktavianto, Selasa (3/5).

Selama penyanderaan, 10 ABK ini sering berpindah-pindah lokasi persembunyian di tengah hutan Filipina. Mereka ditutup matanya agar tidak mengetahui jalur yang dilalui.

“Personelnya banyak, bawa senjata semua. Kalau malam (penutup mata) di buka. Berpindah setiap malam, kadang tiga jam, kadang lima jam baru istirahat, enggak pasti. Takut, tekanan batin, dan pasrah entah mau dibawa kemana. Karena mereka pakai bahasa lokal,” tutur warga Dukuh Miliran, Desa Mendak, Kecamatan Delanggu ini.

Disinggung soal makan dan ibadah, dia mengungkapkan, setara dengan apa yang dilakukan kelompok ekstrimis asal Filipina tersebut. Disisi lain, untuk mengusir kejenuhan mereka hanya mencoba tidur atau bercanda.

“Waktu disandera kadang dipisah, kadang bersama-sama. Kalau mereka salat, kami juga salat. Kalau mereka makan, kami juga makan. Makannya dua kali sehari. Makan nasi dibungkus daun pisang dan dibikin ketupat,” ucap Bayu.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge