0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Mengenal Wayang Lesung Asli Sragen

dok.timlo.net/agung widodo
Dalang wayang lesung, Ki Hadi Sukarman (dok.timlo.net/agung widodo)

Sragen — Selama ini masyarakat hanya mengetahui seni wayang kulit dan wayang golek. Tapi di Kabupaten Sragen selain dua seni wayang tersebut, masih ada seni wayang lain, yaitu wayang lesung.

Jenis kesenian ini memang masih termasuk baru dan belum dikenal banyak orang. Dinamakan wayang lesung lantaran sebagai iringan dalam memainkan wayang menggunakan lesung. Kesenian baru ini merupakan hasil kreasi dari beberapa seniman dan seorang dalang senior dari Kecamatan Sambirejo, Sragen, Ki Hadi Sukarman.

Orang lebih mengenal lelaki berusia 72 tahun ini dengan sebutan Mbah Hadi Sukarman, seorang dalang kawakan yang cukup dikenal di wilayah Sragen, Karanganyar dan Wonogiri.

Awalnya dia hanya pedalang biasa yang memainkan lakon wayang pada umumnya. Namun atas prakarsa sejumlah seniman muda dan Dinas Pariwisata Sragen, sejak 2015 lalu mulai digagas kreasi baru wayang lesung. Wayang ini seperti wayang kulit pada umumnya. Hanya saja dimainkan dengan  diiringi gamelan dari lesung dan dipadu dengan gending jawa.

Yang menarik, menurut mbah Hadi, umur lesung yang digunakan itu sendiri sudah sangat tua, sekitar 3 generasi atau 200 tahun. Lesung itu seperti lesung pada umumnya, kayu besar berbentuk persegi panjang yang di atasnya dibuat lubang besar berbentuk cekung.

Lesung ini pada jaman dulu digunakan untuk tempat menumbuk padi atau gabah dengan menggunakan alu. Nah, alu inilah yang dipakai untuk menabuh lesung sehingga menimbulkan bunyi khas yang indah.

“Kalau dulu digunakan petani untuk numbuk padi, bisa menghasilkan beras. Tapi sekarang lesung ini bisa dimainkan jadi gamelan, dipukul pakai alu dari segala sisi sehingga timbul bunyi-bunyian yang khas,” kata Mbah Hadi.

Para penabuhnya pun dilakukan oleh 6 orang yang semuanya adalah perempuan. Gamelan lesung ini lantas digunakan untuk mengiringi wayang yang dimainkan mbah Hadi.

Menariknya lagi, cerita wayang yang ditampilkan adalah diambil dari dongeng tentang Dukuh Mulyorejo atau pada jaman dahulu dinamakan Dukuh Tohpati di Kecamatan Sambirejo.

“Kalau wayang kulit umumnya mengisahkan cerita dari Mahabarata atau Ramayana. Kalau ini dongeng jaman dulu mengenai sejarah desa sini saja,” jelasnya.

Karena tak semua orang mengetahui, maka tidak heran kalau wayang lesung ini jarang ditampilkan, apalagi sampai luar daerah. Wayang ini ditampilkan pada saat ada tamu kehormatan yang mengunjungi Desa Mulyorejo. Wayang lesung ini pertama kali ditampilkan pada saat peresmian Hutan Ekowisata di komplek Tekhno Park Sragen, yang diresmikan Bupati Agus Fatchur Rahman, Desember 2015 lalu.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

KEMBALI KE ATAS badge