0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

TimloMagz

Tas Rajut Plastik, Industri Kreatif Yang Ramah Lingkungan

foto: David
(foto: David)

Timlo.net – Pemerintah boleh membatasi penggunaan kantong plastik sebagai salah satu upaya mengurangi pencemaran lingkungan. Namun jika kantong plastik yang biasanya sekali pakai dan berakhir di tong sampah menjadi tas rajut, akankah menyebabkan pencemaran lingkungan.

Di Jalan Pulanggeni, Tipes, Solo, ada sebuah gerai yang memproduksi dan menjual tas rajut yang terbuat dari bahan dasar kantong plastik. Selain untuk menambah nilai ekonomis kantong plastik, juga untuk meminimalisir pencemaran lingkungan.

“Awalnya karena di Solo belum ada yang membuat tas raut dari kantong plastik, dan ternyata respon pasar cukup menarik karena ada peraturan pembatas penggunaan kantong plastik,” kata pemilik gerai, Debita belum lama ini.

Debita menggunakan kantong plastik baru untuk menjaga kebersihan dan kualitas tas rajutnya, meskipun sebenarnya bisa juga dengan plastik bekas asal kering. Namun sistem pemasaran dengan memanfaatkan media sosial mengharuskan selalu menjaga kualitasnya dengan baik.

Dengan sistem pemasaran melalui media sosial dan lebih banyak dibeli oleh teman-teman dan tetangga, omsetnya juga belum terlalu banyak. Namun dengan harga jual yang cukup terjangkau, berkisar antara Rp 10 ribu hingga Rp 100 ribu, sudah mendapatkan value yang melebihi harganya.

“Harga jualanya menyesuaikan kesulitan dan ukuran dari tas rajutnya itu sendiri, dan karena masyarakat lebih banyak yang memilih murahnya lebih dahulu, kita jga tidak berani menjualnya dengan harga tinggi,” tambahnya.

Cara membuatnya sendiri sebenarnya cukup mudah dan sama dengan membuat tas rajut dari benang pada umumnya. Hanya saja, dengan bahan dasar kantong plastik, harus dipotong kecil memanjang seperti benang rajut.

Setelah dipotong sesuai yang diinginkan, benang plastik kemudian darjut seperti biasa hingga membentuk sebuah tas dengan berbagai macam aksesorisnya. Dan untuk sementara hanya memproduksi tas rajut saja, meskipun bisa juga dibuat kerajinan rajut bentuk lain.

Dari kreatifitasnya sejak beberapa tahun terakhir ini, Debita mampu menghasilkan omset hingga Rp 3 juta per bulan. Dan modal yang dikeluarkan nyaris hanya kantong plastik, selebihnya ketrampilan tangan dan kreatifitas.

“Saya kira di Solo kita yang pertama membuatnya, selain unik, murah dan mudah perawatannya, cukup dicucui dengan air bersih dan tidak perlu disikat serta disimpannya di ruang terbuka agar tidak terkena jamur,” tandasnya.

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge