0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

TimloMagz

International Rain Festival, Ajakan Mugi Menikmati Anugerah Alam

(foto: Ist)

Timlo.net – Kalau tak ada aral melintang, dua event budaya akan bergulir rutin di belahan barat Kota Solo. Titiknya di rumah seniman tari kontemporer, Mugiyono Kasido di Desa Pucangan, Kartasura, Sukoharjo. Dua event itu adalah Festival Hujan Internasional (International Rain Festival) dan Asian Festival. Meski berlokasi di desa dan digelar dengan biaya terbatas, namun gaung ke dua event tersebut terbilang mendunia.

Ditemui di rumahnya sekaligus Sanggar Mugi Dance yang artistik alami di atas lahan 3.000 meter, Mugiyono Kasido memaparkan, gagasan Festival Hujan Internasional adalah ajakan kepada semua orang untuk menerima hujan sebagai kebaikan alam.

“Orang sering melihat hujan dari sisi bencana atau kerepotan yang ditimbulkan. Namun ada sejumlah kearifan budaya, mereka memiliki cara untuk mensyukuri hujan. Ajakan ini yang ingin kami luaskan ke seluruh dunia,” tuturnya.

Festival Hujan Internasional, pertama kali digelar bulan Januari 2015. Yang kedua juga digelar bulan Januari lalu, sehingga ke depan Januari minggu kedua akan menjadi patokan waktu penyelenggaraan.

Festival pertama yang berlangsung dua hari, diikuti 20 kelompok seni, di antaranya seniman tamu dari Jepang, Italia, Meksiko, juga dari Sulawesi dan Gunungkidul. Lima panggung, tiga di antaranya dibiarkan terbuka beratap langit, menyuguhkan sejumlah atraksi seni kontemporer.

“Penonton dan pemain sengaja tetap menikmati meski hujan turun. Boleh membawa payung atau mengenakan jas hujan, tapi panitia tidak menyiapkan tempat berteduh. Silakan menonton dan merasakan hujan yang dingin dan tanah becek. Kalau kedinginan, ada minuman wedang jahe yang dijual warga sekitar sini,” jelas Mugi.

Tak lupa Mugi menyisipkan nilai edukasi pada festival rekaannya itu. Festival pertama bertema mensyukuri hujan, juga menghadirkan Romo Kirjito, tokoh yang banyak mengajarkan manfaat air alkali dan bagaimana membuatnya dengan peralatan elektrik sederhana.

“Pada festival kedua, yang terlibat jadi jauh lebih banyak, sekitar 400 orang. Tema pun berganti lagi bagaimana memanfaatkan dan merawat air hujan. Kami ajak warga untuk membuat biopori agar air hujan tidak terbuang sia-sia. O ya, festival hujan ini juga selalu mengajak anak-anak desa untuk berkesenian. Mereka bisa bermusik dan menari dengan bagus, hanya dengan latihan sederhana,” ungkapnya.

Event lain yang baru bergulir sekali, Asian Festival, senyatanya adalah presentasi hasil latihan sejumlah seniman musik dan tari asal Asia dari Jepang, Thailand, Korea dan sebagainya. Hasil latihan di Mugi Dance selama sepekan itu, kemudian dipentaskan untuk mendapat respons dari publik.

“Tempatnya mungkin berputar ke negara-negara peserta, tapi Mugi Dance selalu diibatkan,” ujar Mugi.

Dua event berkelas itu, tentu tidak luput dari nama besar Mugiyono Kasido di pentas pertunjukan tari kontemporer. Mugi memulai debutnya sejak tahun 1992, dan sejak itu sudah berpentas di sekitar 30 negara.

Karya menonjolnya di tanah air, adalah ketika dia menari “Bima Suci” nonstop selama 36 jam di Jakarta yang berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia, tahun 2011.

Karya fenomenal lainnya, adalah “Kabar Kabur” (the Rumors) yang mengungkapkan peristiwa kerusuhan 1998 di Indonesia dalam sajian yang satir dengan media ungkap kaos dan celana panjang putih.

Kabar Kabur yang lahir dua tahun setelah kurusuhan, hingga kini telah dipentaskan di sekitar 23 negara sebanyak 140 an kali.

“Besok November masih diminta untuk dipentaskan keliling Swedia,” papar ayah dari Mumtaz, Magnum dan Marvel ini.

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge