0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Tradisi Lesungan Jelang Hajatan Masih Terjaga di Tirtomoyo

Tradisi tabuh lesung (dok.timlo.net/tarmuji)

Wonogiri — Tradisi unik satu ini masih tetap terjaga di wilayah Kabupaten Wonogiri hingga saat ini. Yakni tradisi tabuh lesung dengan menggunakan alu di saat akan digelar pesta pernikahan di pihak keluarga mempelai wanita.

Jauh di selatan Kota Wonogiri atau tepatnya di Dusun Nglaran, Desa Banyakprodo, Kecamatan Tirtomoyo, tradisi tabuh lesung ini masih dilestarikan.

Tetabuhan ini menciptakan sebuah irama langgam Jawa. Tabuh lesung sendiri tercipta dari bunyi lesung dan alu. Lesung merupakan media sebagai tempat menumbuk padi, sedang alu yakni alat penumbuk padi.

Tabuh lesung sendiri dilakukan seminggu menjelang dihelatnya pesta perkawinan. Dimana, ibu- ibu para petani membawa alu dan menyanyi bersama dengan iringan bunyi lesung.

“Kalau jaman dulu, tabuh lesung digelar tujuh hari,” ungkap Kadus Nglaran, Wahyu Budiyanto, Kamis (28/4).

Biasanya tabuh lesung digelar sore hari, sekitar bakda sholat Ashar. Dengan iringan suara lesung ditabuh dan alu beradu, sekelompok perempuan petani menari dan bernyanyi riang memecah sunyinya desa. Bunyi irama lesung ini bertambah meriah dengan suara beras ditampi dalam tampah yang dimainkan perempuan lainnya

Tabuh lesung sarat akan makna, dimana masyarakat desa mengucapkan syukur kepada Sang Pencipta, melalui syair-syair yang mereka dendangkan mengikuti irama lesung.

“Pada malam hari ke tujuh, tradisi lesungan biasanya ditampilkan di rumah warga yang hendak melaksanakan hajad pernikahan. Pada malam itu semua warga akan berkumpul menyaksikan tradisi lesungan sekaligus menyanyi dan menari bersama-sama,” imbuhnya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge