0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Sumatran Last Tiger Jadi Runner Up di Festival Film New York 2016

www.worldwildlife.org
ilustrasi (www.worldwildlife.org)

Timlo.net – Film Sumatran Last Tiger meraih perak dalam Festival Film New York 2016. Film dokumenter satu ini menceritakan upaya konservasi harimau Sumatera di kawasan konservasi Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) Pesisir Barat, Lampung.

Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) optimistis popularitas pariwisata Indonesia akan semakin moncer di level dunia.

“Apalagi film bertema alam dan satwa liar di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) ini mengalahkan ratusan film dokumenter lainnya. Saya yakin setelah ini akan makin banyak wisatawan yang berkunjung ke Taman Nasional Bukit Barisan Selatan,” papar Ketua Umum ASITA, Asnawi Bahar, kemarin.

Di New York, film Sumatran Last Tiger memang sukses menumbangkan ratusan film lainnya. Posisi teratas, film Vanishing King: Lion of Namib yang menceritakan tentang terancam punahnya satwa liar Singa di Namibia, Afrika.

Berkat film Sumatran Last Tiger, pemirsa tahu gambaran harimau Sumatera yang pernah berkonflik dengan manusia dan kemudian dilepas kembali ke area konservasi alam seluas kurang lebih 50.000 hektare di TNBBS.

“Secara tidak langsung pariwisata Indonesia ikut terekspos, ikut terangkat, ikut terdongkrak,” ungkapnya.

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya juga mengapresiasi prestasi karya anak-anak bangsa di level dunia. Ini semakin meyakinkan bahwa negeri ini mampu bersaing di cultural industry atau creative industry.

Prestasi demi prestasi di Kemenpar itu juga tidak lain dari sector kreatif. Bukan manufacture, atau pabrik-pabrik.

“Kita tidak mungkin bisa bersaing dengan China kalau bermain di manufacture. Tetapi kalau pekerjaan kreatif, saya yakin, kita tidak kalah. Kemenangan film documenter Sumatran Last Tiger ini adalah salah satu contohnya,” ujar Menpar. (*)

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

KEMBALI KE ATAS badge