0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

BNPT Sebut Jaringan Siyono Sangat Berbahaya

dok.merdeka.com
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Tito Karnavian (dok.merdeka.com)

Timlo.net — Kasus kematian Siyono selepas ditangkap Tim Detasemen Khusus 88 Antiteror masih menyisakan tanda tanya. Di tengah polemik kematian Siyono, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Tito Karnavian justru membeberkan sepak terjang Siyono di jaringan terorisme.

Siyono disebut sebagai bekas pengikut Abu Bakar Ba’asyir. “Siyono bagian dari jaringan Jamaah Islamiah (JI),” kata Tito, kemarin.

Mereka memiliki target menghabisi aparat keamanan. Alasannya, membunuh polisi bisa mendapat pahala. Mereka juga masuk golongan pasukan berani mati, jika tewas maka masuk dalam kategori orang mati sahid.

Jaringan Siyono sudah ada sejak 1999. Kelompok ini dinilai berbahaya. Memiliki kemampuan militer kontra intelijen dan kemampuan menggunakan senjata untuk melawan polisi.

“Ditambah doktrin mereka ya mencari mati sahid melalui kontak senjata, konflik dengan petugas,” ungkap Tito.

Berhadapan dengan kelompok bersenjata yang terlatih, jangan berharap bisa menangkap mereka hidup-hidup. Mereka memilih bertarung sampai mati daripada tunduk pada polisi. Karena alasan itu Siyono tewas usai tarung dengan Densus 88 Antiteror. Dia memilih bertarung sampai titik darah penghabisan.

“Militan mereka ini, meskipun badannya kecil. Apalagi kalau mengharapkan semua tertangkap hidup-hidup, sangat sulit menurut saya. Karena apa? Mereka bersenjata dan memiliki kemampuan militer tadi itu,” katanya.

Densus 88 memiliki banyak informasi mengenai Siyono sebelum melakukan penangkapan. Setelah terindikasi masuk dalam jaringan teroris, Densus 88 bergerak dan meringkus Siyono.

Jaringan Jamaah Islamiyah melemah usai tragedi Bom Bali dan operasi penumpasan kelompok Nurdin M Top pada 2009 serta operasi Janto di Aceh. Namun ternyata, komunikasi dan konsolidasi jaringan Jemaah Islamiyah ini masih saja terjadi.

Tito membeberkan puluhan orang ditangkap dengan barang bukti bahan peledak dan senjata api. Contohnya pada akhir 2015, 4 orang ditangkap. Mereka mengakui senjata yang dimiliki merupakan sisa dari kelompok atau jaringan tertentu.

Salah satunya menyangkut Siyono. Dari catatan Densus, sejumlah saksi menyebut Siyono sebagai pengatur dan penyimpan senjata dalam jaringan kelompok Neo JI. Tito juga disebut sebagai panglima sekaligus komandan rekrutmen kelompok teroris Neo JI.

“Dalam catatan Densus dia terlibat dalam jaringan yang sudah ada. Ada sekitar 13 orang yang menyebut nama dia termasuk pemegang senjata,” ungkapnya. [noe]

Sumber: merdeka.com

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge