0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

TPA Joho Ditutup, 2 Eskavator Kebut Penimbunan Sampah

Dua eskavator diterjunkan untuk meratakan sampah dengan timbunan tanah di TPA Joho, Prambanan, Klaten (dok.timlo.net/aditya wijaya)

Klaten — Masa operasional tempat pembuangan akhir (TPA) sampah sementara di Desa Joho, Kecamatan Prambanan, Klaten, berakhir. Hal itu menyusul penolakan warga setempat yang enggan memperpanjang kontrak operasional.

“Iya hari ini sudah selesai. Tadi truk sampah terakhir yang masuk sekitar pukul 12 siang,” kata Operator eskavator TPA Joho, Wahyu, Senin (18/4).

Dijelaskan, lahan seluas kurang lebih 7000 meter persegi itu bersifat sementara dan disewa sampai pertengahan tahun 2016. Adapun setiap harinya ada 15 truk dengan masing-masing truk berisi 8-9 kubik sampah. Selain itu ada 7 armada kecil yang berisi sekitar tiga kubik.

Selama ini, kata Wahyu, penanganan sampah di TPA Joho dilakukan dengan metode open dumping. Begitu ada sampah datang langsung ditimbun dengan tanah lalu diberikan cairan penyemprot untuk menghilangkan bau tak sedap.

“Ada dua eskavator yang kita gunakan, salah satunya rental. Belum ada target sampai kapan, tapi ini ditugaskan ngratake (meratakan) sampah dengan tanah. Jadi setelah kita tinggal, sudah tidak terlihat lagi sisa sampahnya di Joho,” kata Wahyu.

Sebelumnya, Kepala Urusan (Kaur) Pembangunan Desa Joho, Hartono menyatakan, masyarakat sudah sepakat menolak perluasan lahan TPA Joho dalam bentuk apa pun. Sebab, sesuai kesepakatan, setiap membuang sampah seharusnya DPU selalu menguruk dengan tanah paling lama dua pekan. Tapi fakta di lapangan, hampir beberapa bulan sampah tidak diuruk.

“Prinsipnya kami hanya mengikuti kehendak masyarakat. Sikap penolakan paling banyak datang dari RW 2, terutama dari RT 4 dan RT 5. Ada dampak bau menyengat dari sampah yang tidak segera diuruk,” ucap Hartono.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge