0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Ironis, SMK di Boyolali Kekurangan Guru Produktif

dok.timlo.net/nanin
Siswa SMK (dok.timlo.net/nanin)

Boyolali — Di tengah tingginya animo masyarakat menyekolahkan anaknya ke sekolah menengah kejuruan (SMK), ternyata tidak berimbang dengan jumlah tenaga pengajar produktif untuk jurusan tertentu. Jumlah guru produktif di 45 SMK di Boyolali tercatat hanya 134 guru.

“Ini sangat ironis, minat masuk ke SMK sangat tinggi, tapi justru kekurangan guru dengan ketrampilan khusus,” kata Kabid SMA SMK Disdikpora Boyolali, Suyanta, Senin (18/4).

Guru produktif dengan ketrampilan khusus, seperti industri, otomotif, mesin. Sebaliknya, SMK kelebihan guru dengan mata pelajaran umum, seperti bahasa Indonesia, PPKN dan Bahasa Inggris. Sehingga banyak guru mata pelajaran umum terpaksa mengemis waktu agar bisa memenuhi syarat sertifikasi.

“SMK juga kekurangan guru agama dan Bahasa Jawa,” tambahnya.

Sementara untuk mengatasi minimnya guru produktif, pihak sekolah biasanya mendatangkan guru tidak tetap yang diangkat komite dan disesuaikan dengan kebutuhan sekolah.

Di Boyolali idealnya menambah lima SMK lagi menyusul makin tingginya animo masyarakat. Hanya saja, untuk mendirikan sekolah SMK tidak mudah. Tahun ini, Boyolali sedang membangun SMK negeri di Nogosari dan siap dibuka tahun ajaran 2016-2017.

Kasi Kurikulum SMA/SMK Disdikpora Boyolali, Lasno, akan menjadi pejabat sementara Kepala Sekolah di SMK Nogosari yang dibangun di Desa Pojok, dengan penambahan satu SMK maka kekurangan guru produktif akan semakin bertambah.

“Untuk sementara, kelebihan guru mata pelajaran umum bisa dialihkan ke Nogosari. Untuk guru produktif kita tunggu pengalihan kewenangan dulu,” tambahnya.

Untuk Boyolali sendiri, Lanjut Lasno, sangat membutuhkan sekolah kejuruan dengan jurusan yang bisa mendukung industri di Boyolali. Misalnya, teknik komputer jaringan, tata busana butik, perhotelan, teknik bangunan, dan teknik pemeliharaan mesin. Untuk teknik pemeliharaan mesin baru ada satu di SMK Klego.

“Untuk jurusan otomotif sudah banyak peminat,serapan pasarnya sangat sedikit,” tandasnya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge