0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Seniman Kreatif, Melukis Pakai Selotip

Erwin Saputra, melukis pakai selotip (merdeka.com)

Timlo.net – Seniman muda satu ini mampu menghasilkan karya unik dan kreatif. Erwin Saputra (22), mampu melukis wajah dengan memanfaatkan potongan-potongan selotip.

Lewat seni selotip atau tape art, puluhan wajah tokoh terkenal dilukisnya dengan penuh ketekunan. Santri Pondok Pesantren Miftahul Huda, Gading Pesantren, Kota Malang, Jawa Timur ini sudah menyelesaikan banyak lukisan wajah, di antaranya Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, Raden Ajeng Kartini dan lain-lain.

Erwin juga menyelesaikan gambar seri Presiden Republik Indonesia dari Ir Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurachman Wachid (Gus Dur), Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widodo.

“Biasanya kalau detail membutuhkan waktu sekitar 4 jam, ya satu lukisan antara 2 sampai 4 jam,” kata Erwin, Senin (18/4).

Kata Erwin, di luar negeri tape art sudah banyak dikenal tetapi biasanya menggunakan selotip transparan. Erwin merasa melakukan pembaruan dengan memanfaatkan selotip kertas dan background warna dasar.

Awalnya Erwin berkarya untuk seni karikatur dan scruble. Karyanya saat itu juga sudah banyak dipesan pelanggan dari berbagai kota besar, seperti Jakarta, Kalimantan Timur dan lain sebagainya.

Kenal dengan tape art diawali Erwin dari sebuah ketidaksengajaan. Suatu saat, dirinya menempelkan sebuah selotip di styrofoam di atas meja. Sebuah bentuk tertangkap oleh pandangan matanya, hingga kemudian terbayang untuk membuat karya seni dari selotip.

“Baru seminggu kemudian, ide itu dieksekusi dengan gambar pertama sebagai percobaan, wajah Ridwan Kamil,” katanya.

Karya pertamanya yaitu wajah Ridwan Kamil kemudian diuji ke media sosial melalui Instagram untuk mendapatkan respon masyarakat. Tanpa disadari, ternyata banyak komentar dan like dari para netizen, salah satunya apresiasi langsung dari Ridwan Kamil.

“Ridwan Kamil langsung like dan kasih komen, katanya, sebagai karya seni unik,” tegas Erwin mengenang.

Erwin sendiri berkarya dari sebuah rumah kontrakan bersama beberapa teman di Jalan Candi IIa Kota Malang. Di kamar sempit berukuran 2,5 meter X 2,5 meter berkarya.

Proses kreatifnya semula dilakukan di pondok pesantren, namun karena untuk kepentingan skripsi sementara waktu kontrak untuk menyelesaikan karyanya.

“Sementara tidak ke pondok dulu untuk menyelesaikan skripsi kuliah. Kalau di pondok nggak ada tempatnya, tapi begitu selesai saya tidur pondok lagi,” kata mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) Malang Jurusan Seni Rupa murni sementer 8 ini.

Selama ini, Erwin menjual karya-karyanya melalui media sosial. Pemesannya dapat secara bebas meminta wajah yang dilukis dengan mengirimkan foto.

“Sebagian terjual dengan harga antara Rp 500 ribu – Rp 1 juta. Pemasaran lewat media sosial,” tegasnya.

[ary]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge