0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Bantah Karena Tidak Digaji, Ini Alasan Museum Radya Pustaka Ditutup

timlo.net/ichsan rosyid
Gerbang masuk Museum Radya Pustaka tertutup rapat di jam operasional (timlo.net/ichsan rosyid)

Solo – Pegawai Museum Radya Pustaka membantah mereka tidak masuk kerja lantaran belum menerima gaji sejak Januari lalu. Mereka sengaja tidak beroperasi agar dana hibah dari Pemerintah Kota (Pemkot) Solo segera dicairkan.

“Kita tidak masuk kemarin itu bukan karena masalah gaji. Kalau karena itu (gaji), kita sudah nggak masuk sejak Januari kemarin. Nyatanya sampai April awal kita masih buka,” kata Juru Rawat Museum Radya Pustaka, Fajar Suryanto, Sabtu (16/4).

Sejak Januari lalu, lanjutnya, pegawai sudah tidak menerima gaji. Hanya 3 pegawai yang ditunjuk Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah yang masih menerima gaji.

Sementara gaji pegawai lainnya di bawah Komite Museum Radya Pustaka yang bersumber dari dana hibah, sudah 4 bulan tidak diberikan.

Kendati demikian, para pegawai tetap masuk kerja seperti biasa meski tidak dibayar. Bahkan tak jarang mereka patungan bersama Komite Museum untuk menutup kekurangan biaya perawatan.

Pasalnya, pendapatan dari penjualan tiket masuk tak cukup untuk membiayai operasional museum. Membayar beban listrik pun kurang.

“Kita selama ini sudah berusaha bagaimana caranya agar benda koleksi museum ini bisa terjaga dengan baik. Tapi karena ini sudah kepepet, mau tidak mau dana hibah itu harus segera cair,” tandasnya.

Wakil Ketua Komite Museum Radya Pustaka, Sanjoto, pun membantah bahwa bila dikatakan museum tutup karena karyawan mangkir dari tugas sebagaimana diberitakan media. Hal itu dinilai memojokkan karyawan museum dan tidak memberi solusi.

“Hari Senin libur, hari Selasa masih buka, kemudian hari Rabu, Kamis, dan Jumat, memang tidak buka, namun karena kekurangan karyawan, ada 3 karyawan yang masuk kerja kok. Jadi tidak betul 12 karyawan mangkir. Namun, museum tidak buka, karena jika hanya tiga orang tidak memungkinkan untuk melayani pengunjung yang datang,” katanya.

Ia pun mencontohkan Ketua Komite Museum Radya Pustaka, Purnomo Subagyo yang tidak masuk sejak lama karena sakit. Selain itu, pegawai lainnya juga sudah ijin tidak masuk kepadanya melalui telefon karena tidak punya uang untuk berangkat kerja.

“Kalau memang tidak bisa berangkat terus bagaimana? Wong selama ini dia juga sudah sering hutang untuk beli bensin. Apa itu mau dibilang mangkir,” tanyanya.

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge