0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Tak Ingin Dikasihani, Difabel Rame-Rame Ikut Ujian SIM

Salah satu difabel ikut ujian praktek SIM dengan kendaraan roda tiga (dok.timlo.net/agung widodo)

Sragen — Berangkat dari kesadaran untuk mematuhi peraturan lalu lintas dan meminta kesetaran hak sebagai pengguna jalan, sejumlah kaum disabilitas Sragen rame-rame membuat Surat Izin Mengemudi (SIM). Mereka mendatangi Kantor Pelayanan SIM Satlantas Polres Sragen untuk mengikuti ujian praktek.

“Kami ingin diperlakukan sama dengan pengguna jalan lainnya. Kami tidak ingin ada permakluman dari polisi ketika dihentikan lantaran tak punya SIM,” kata salah satu difabel, Sugiyanto (31), warga Kampung Krapyak, Kelurahan Sragen Wetan, Jumat (15/4).

Sugiyanto menuturkan, selama ini memang terkesan ada perlakuan khusus terhadap kaum difabel. Misalnya ketika ada razia, polisi tidak menilang mereka lantaran tak memiliki SIM. Begitu pula dengan kelengkapan kendaraan tidak diperiksa petugas.

Saat mengikuti ujian praktek, para kaum difabel ini juga melalui tahapan yang sama dengan manusia yang sehat secara fisik. Walau sebagian menggunakan kendaraan roda tiga, tetap menjalani rute tes jalan zig zag di lapangan praktek.

Fasilitator Difabel Sragen dari Pelatihan Rehabilitasi Bersumber Daya Masyarakat (PPRBM) Solo, Suhartiningsih mengatakan, pengajuan SIM kaum difabel ini sebagai wujud hak dan kewajiban warga negara. Pihaknya tidak ingin ada perlakuan khusus di hadapan hukum.

“Kita lemah di mata hukum jika tidak punya SIM. Kita tidak mau dimaklumi karena kasihan. Memiliki SIM wujud dari kesetaraan hak,” kata Harti, panggilan akrabnya.

Harti menambahkan, ada 19 orang difabel yang hari itu mengikuti ujian SIM. Dari jumlah tersebut, 4 orang berkendaraan roda 3 (SIM D) dan 15 orang kendaraan roda 2 (SIM C).

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge