0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Google Doodle Rayakan Ulang Tahun ke-85 Samaun Samadikun

Google doodle untuk Samaun Samadikun. (Dok: Timlo.net/ Google.)

Timlo.net—Google merayakan ulang tahun Samaun Samadikun yang ke-85 dengan sebuah doodle berupa sketsa wajah Samaun sewaktu muda. Di bagian belakangnya, terdapat obyek serupa trafo dengan kabel-kabel yang melilit. Siapakah sosok Samaun Samadikun sehingga hari kelahirannya dirayakan oleh Google? Rupanya Samaun Samadikun dikenal sebagai bapak Mikroelektronika Indonesia.

Pria kelahiran 15 April 1931 itu seorang insinyur, pendidik dan ilmuwan Indonesia. Prof Samaun Samadikun semasa hidup juga dikenal sebagai dosen ITB dan pendidik yang dikenal karena keteladanannya, tulis Wikipedia. Prof Samaun menjadi mahasiswa Jurusan Teknik Elektro di ITB pada awal tahun 1950an dan lulus sebagai insinyur. Ia kemudian memperoleh gelar M.Sc. (1957) dan Ph.D. (1971) di bidang teknik elektro dari Universitas Stanford di Amerika Serikat.

Pada 1975, di Universitas Stanford bersama K.D Wise, Prof. Samaun memperoleh hak paten untuk teknologi yang disebut, “Method for forming regions of predetermined thickness in silicon”. Dia memulai karir sebagai dosen di Jurusan Teknik Elektro, Institut Teknologi Bandung pada 1957. pada 1974, dia menjadi profesor di bidang elektronika. Di ITB sendiri, Samaun pernah menjabat sebagai ketua Jurusan Teknik Elektro (1964-1967). Dia juga mendirikan dan menjabat sebagai direktur utama dari Pusat Antar Universitas (PAU) Mikroelektronika ITB (1984-1989), yang sekarang dikenal sebagai Pusat Mikroelektronika ITB.

Prof. Samaun Samadikun adalah salah satu pendiri dari Akademi Ilmu Pengetahuan Islam (1986) dan salah satu pendiri Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia. Pada tahun 1987-1992 ia menjadi Anggota MPR RI sebagai Utusan Golongan.

Suami dari Roesdiningsih juga merupakan seorang penulis dan turut menulis banyak artikel yang diterbitkan di jurnal ilmiah nasional maupun internasional dalam bidang tunnel diodes, instrumentasi nuklir, fabrikasi IC, energi, industri elektronika, dan pendidikan serta editor buku “mikroelektronika”.

Jasa-jasanya di bidang elektronika diakui di dunia ilmu pengetahuan, termasuk cita-citanya menjadikan kota Bandung sebagai “Kota Chip” di Indonesia. Ia memulai program Bandung High Technology Valley (BHTV).

Prof Samaun meninggal pada 15 November 2006 karena sakit. Sakit itu kali pertama dideritanya pada 2004, tapi sempat sembuh setelah menjalani operasi di Perth Australia.

 

 

Editor : Ranu Ario

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge