0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Pembagian Zona Pasar Legi Semrawut

Aktifitas perdagangan malam hari di Pasar Legi (ichsan rosyid)

Solo – Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Solo membagi zona pasar tradisional (zonasi) belum bisa dikatakan berhasil. Para pedagang enggan mematuhi pembatasan zona tersebut lantaran dirasa merugikan.

“Langganan kita kan tidak cuma beli satu macam barang. Biasanya yang beli sayur juga sekalian beli bumbu,” kata salah satu pedagang di Pasar Legi, Yayuk (47), Rabu (13/4).

Pedagang keberatan mematuhi sistem zonasi karena mereka terpaksa memilih salah satu jenis barang dagangan. Padahal mereka sudah lama berjualan berbagai jenis komoditas di satu kios. Yayuk misalnya, selain berjualan sayuran, ia juga berjualan bumbu dapur. Sementara sistem zonasi menuntut pedagang untuk menjual satu jenis komoditas saja.

Selain masalah komoditas yang dibatasi, pedagang resah dengan persaingan yang akan semakin ketat bila sistem zonasi diterapkan. Pasalnya, bila dikumpulkan di satu tempat, pedagang harus bersaing harga satu sama lain.

“Kalau bisa jualan banyak macam kan kita bisa ambil untung agak banyak di bumbu. Sayuran ambil untung sedikit nggak apa-apa. Lha kalau semua sama, kan jadi saingan harga,” kata pedagang lain, Sumarni.

Sistem zonasi sebenarnya sudah diterapkan di Pasar Legi sejak pertama kali diresmikan tahun 1970-an. Jauh sebelum Pemkot Solo menerapkan zonasi di pasar tradisional. Namun seiring meningkatnya kompetisi, pedagang pun akhirnya ’berimprovisasi’ untuk menjaring lebih banyak pelanggan. Sejumlah pedagang pun menjual jenis barang yang tidak sesuai zona berjualannya. Pedagang lainnya, berpindah ke tempat lain yang dirasa lebih strategis.

“Sebenarnya sudah kita kelompokkan sesuai barang dagangannya. Tapi banyak yang pindah tempat dengan alasan sepi pembeli,” kata Sekretaris Pengelola Paras Legi, Sri Sulistyaningsih.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge