0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Membuka Diri dengan Bedhaya

ichsan rosyid
Reinterpretasi Bedhaya dalam Pentas Angin Angon (ichsan rosyid)

Solo — Tak banyak seniman tari yang berani mengutak-utik Tari Bedhaya. Tapi bukan Djarot Bedasama Darsono namanya bila tidak menghasilkan karya dengan ide eksploratif. Dalam karyanya yang bertajuk Angon Angin, ia mengolah perbendaharaan Bedhaya dan menuangkannya dalam sebuah pertunjukkan teater tari yang apik.

“Angin di sini adalah perlambangan pengaruh-pengaruh luar. Itu harus kita terima, tidak bisa kita tolak. Yang penting bagaimana kita bisa angon (menggembala) angin itu,” kata dia.

Pentas dimulai dengan seorang wanita berpakaian basahan menari di tengah panggung sambil bersolilokui. Di tangannya ada sebatang lidi. Suara angin dan satwa liar di latar belakang membangun nuansa alami dalam pentas. Sesekali ia melecutkan lidi menghasilkan suara yang menyatu dengan gerak dan musik yang disajikan.

Suara kenong khas pengiring Bedhaya yang meditatif pun mulai terdengar setelah solilokui usai dan penari menepi ke pinggir panggung. Lima penari lain masuk dari penjuru panggung. Perlahan-lahan musik berubah menggelegar dengan suara alat-alat musik perkusi. Dari belakang panggung, penari kelima memasuki panggung dengan solilokuinya tentang kegelisahan menghadapi perkembangan jaman.

“Selama ini telah kulihat prosesi peradaban yang selalu bergerak. Tapi kemana? Mungkin dari terang menuju kegelapan,” tanya si penari.

Suara-suara bising lalu lintas di latar belakang diselingi lecutan-lecutan lidi dari penari-penari lain menghasilkan aransemen yang unik tapi tetap sinkron dengan gerakan tari.

Sepanjang pentas, Djarot tak hanya menampilkan Bedhaya dalam bentuk baru. Sesekali penari bergerak tak beraturan di panggung tapi tetap menjaga kekompakan dan keindahan gerak. Terkadang diselingi monolog paralel dari para penari menggambarkan suasana kacau dan membawa penonton mengikuti ritme pentas yang semakin cepat.

Pentas diakhiri dengan klimaks yang mengejutkan. Tujuh penari berjajar di belakang, satu per satu maju ke panggung melecutkan lidi yang sejak awal pentas menjadi properti mereka. Mendadak, belasan remaja berpakaian kasual memasuki panggung membawa dua batang lidi berbendera merah putih di satu tangan. Sedangkan mata mereka terpaku pada telefon genggam di tangan lainnya. Tak peduli dengan tujuh penari berbaju basahan yang terus menerus melecutkan lidi.

“Sejak dulu, nenek moyang kita sangat akomodatif. Apapun yang datang dari luar diterima. Sehingga kita jadi beragam. Tapi justru karena beragam itu kita jadi bersahaja. Memang akan muncul konflik tapi dari situ akan muncul kedewasaan,” kata Djarot.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

KEMBALI KE ATAS badge