0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Awas, Sanksi Pidana Mengintai Pemilik Bangunan dan Tanah Mangkrak

Supriyanto (dok.timlo.net/)

Solo – Seiring pengesahan Perda tentang Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Terhadap Perumahan dan Permukiman Kumuh, pemilik tanah dan bangunan yang mangkrak dapat dikenakan sanksi pidana. Pasalnya, bangunan dan tanah yang dibiarkan pemiliknya dapat menimbulkan kekumuhan lingkungan.

“Dalam pelaksanaannnya, pemilik bangunan atau lahan yang mangkrak diberikan peringatan, kalau masih ngeyel bisa ditindak pidana ringan atau Tipiring,” ujar Sekretaris Komisi II DPRD, Supriyanto, baru-baru ini.

Dibuatnya Perda tersebut, kata Politisi Partai Demokrat ini, supaya pemilik lahan dan bangunan serius merawat asetnya. Menurutnya, selama ini bangunan dan lahan mangkrak mengakibatkan kekumuhan.

Potensi kekumuhan yang timbul, sebisa mungkin dicegah termasuk dengan dibuatnya Perda. Mengingat, kekumuhan yang terjadi memicu timbulnya penyakit dan mengganggu kesehatan di masyarakat tempat lahan atau bangunan itu berada.

“Kalau dibiarkan terus menerus kan tidak baik (menimbulkan penyakit-red) di tempat tersebut,” kata Supriyanto.

Lebih lanjut, Perda yang dibuat ini berlaku bagi semua kepemilikan yakni kepemilikan pribadi, BUMD hingga BUMN. Pemkot menggunakan tujuh indikator untuk menentukan bangunan kumuh yakni kondisi bangunan, jalan lingkungan, penyediaan air minum, drainase, pengolahan air limbah, pengelolaan sampah dan proteksi kebakaran.

“Pengembang perumahan yang tak bisa memenuhi tujuh kriteria ini juga diancam sanksi pidana. Besar hukuman ditentukan skala pengembangannya,” jelasnya.

Sementar, Anggota Komisi II, Ginda Ferachtriawan, membenarkan ada sejumlah sanksi yang mengancam lembaga atau perseorangan yang memicu kawasan kumuh. Namun dia menyebut semangat Perda Permukiman Kumuh sebenarnya lebih pada pencegahan agar bangunan kumuh tak semakin bertambah.

“Seperti halnya permukiman padat penduduk di Laweyan, Kauman maupun Baluwarti. Harus segera ada intervensi sehingga permukiman menjadi padat tertib, bukannya padat kumuh,” ujarnya.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge