0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Industri Lokal Dorong Pengembangan Wisata di Labuan Bajo

Labuan Bajo (labuanbajo-flores.com)

Timlo.net – Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT) masuk dalam program percepatan 10 top destinasi wisata di tanah air. Pengembangan kawasan ini diharapkan dapat menghidupkan industri lokal.

“Labuan Bajo sebagai pusat pengembangan destinasi Flores diharapkan dapat menghidupkan industri lokal dengan segera,” kata Bupati Manggarai Timur, Yoseph Tote.

Tote juga menyebutkan, pariwisata Flores memiliki nuansa dan prinsip eko, melestarikan lingkungan. Sementara itu, Asisten Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata Kemenpar, Frans Teguh mengungkapkan, pihaknya berkewajiban membangun ekosistem ekowisata Flores yang berkelanjutan. Lalu memperhitungkan carrying capacity dan distribusi wisatawan.

“Atraksi pariwisata Flores itu sudah berkelas dunia, tapi Aksesibilitas dan Amenitas masih kelas lokal. Itulah yang akan kita carikan solusinya,” ungkap Frans.

Badan Otorita, kata dia, adalah akselerator pembangunan kawasan pariwisata Flores yang bersifat borderless, sehingga bisa saling terhubung antar kabupaten. Komitmen Pemda dibutuhkan dalam bentuk penyediaan lahan clean and clear dan membangun forum koordinasi untuk membuat Rule of Games bersama.

“Tentu untuk membangun budaya hospitality pariwisata, dibutuhkan SDM dari masyarakat Flores yang lebih banyak. Juga untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan warga,” ungkap dia.

Sekretaris Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Alam dan Jasa – Kemenko Bidang Maritim, Tito Setyawan, menambahkan saat ini sudah resmi 169 negara yang bebas visa kunjungan ke RI. Dia mengingatkan untuk memperbaiki sistem keamanan turis yang masuk ke Indonesia.

Dia yakin, kesadaran masyarakat Labuan Bajo dan Flores sudah sangat tinggi untuk bersama-sama menjaga keamanan. Badan Otorita Pariwisata (BOP) ini, kata Tito, bersifat otoritatif dan koordinatif. Otoritatif terhadap kawasan yang ditangani BOP, sebagai pendorong kemajuan.

Koordinatif dengan semua stakeholder, antarkabupaten, antardaerah, agar memiliki komitmen yang sama untuk tujuan percepatan dan pembangunan pariwisata yang berkelanjutan. Persyaratan utama BOP ini, kata dia, adalah ketersediaan lahan oleh Pemda.

“Flores adalah pariwisata berbasis alam dan lingkungan, jadi perlu diperhitungkan carrying capacity,” ungkap Dirjen Konservasi SDA dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Tachrir Fathoni.

Menurut dia, perlu koordinasi dan sistem integrasi pengelolaan Taman Nasional Komodo dengan Kab Manggarai Barat, dan destinasi Flores lainnya. Juga harus melibatkan lintas kementrian dengan peran yang beragam.

Tachrir berpendapat, saat ini perlu dilakukan riset berkelanjutan mengingat objek wisata TNK adalah vital.

Menpar Arief Yahya yakin, BOP Labuan Bajo dengan ikon Komodo di NTT akan cepat selesai, karena wilayah ini sudah merasakan dampak pariwisata terhadap ekonomi masyarakat lebih terasa.

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge