0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Program Indonesia Bebas Pasung Terkendala Budaya

foto: Putra
Ketua Panitia Konas Psikiatri Geriatrik II & Konas API VI, dr Charles E, tengah memberikan keterangan pers kepada sejumlah awak media (foto: Putra)

Solo Baru – Masalah budaya dinilai menjadi faktor utama Indonesia masih belum bebas pemasungan terhadap penderita gangguan jiwa. Melihat kondisi ini, Asosiasi Psikiatri Indonesia (API) bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia (PDSKJI) gencar mendukung Program Indonesia Bebas Pasung 2017.

“Saat ini pemerintah sedang bekerja keras untuk mewujudkan program Indonesia Bebas Pasung yang diduga masih banyak dilakukan merata di seluruh pelosok Indonesia. Dengan kendala utama yang muncul adalah masalah budaya,” Kata ketua panitia Konas Psikiatri Geriatrik II & Konas API VI, dr Charles E, Kamis (7/4).

Kondisi saat ini di masyarakat masih banyak keluarga yang malu memiliki kerabat yang mengalami gangguan jiwa, dan menganggap lebih baik dsembunyikan. Bahkan yang lebih mengkhawatirkan, masih dilakukan paraktik pengobatan tradisional, bahkan dengan mantra-mantra sesuai budaya yang dianut.

Sejumlah upaya dilakukan oleh API dan PDSKI, utamanya melakukan sosialisasi dan advokasi bagi penderita gangguan jiwa yang di pasung. Pasalnya dr Charles yakin bahwa penderita gangguan jiwa bisa sembuh dan kembali produktif, asalkan ada pendekatan secara psikologis dan dilakukan pengobatan secara rutin.

“Yang paling penting  saat ini kita terus memberi pemahaman pada masyarakat untuk tidak malu melaporkan keluarganya yang mengalami sakit jiwa, kalau segera ditangani maka kesempatan sembuh juga lebih cepat.” Tandas Ketua PDSKJI Solo, dr Budi Mulyanto.

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge