0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Dua Bulan Tidak Ngajar, Bu Dosen Hilang Misterius

merdeka.com
Desiana (lingkar merah) (merdeka.com)

Timlo.net – Dosen Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman Samarinda, Kalimantan Timur, Desiana (45), hilang misterius. Hampir dua bulan terakhir ini, perempuan berhijab itu tidak masuk mengajar.

Keluarganya terus mencari tahu keberadaan dosen perempuan golongan III-D itu. Pihak Fakultas Pertanian mencatat, selama bulan Februari 2016 lalu, Desiana hanya masuk kampus sembilan kali.

Sementara di bulan Maret 2016 lalu sampai dengan saat ini, dia tidak pernah masuk kampus sekalipun. Tidak ada yang tahu keberadaannya. Ponselnya pun sudah tidak aktif.

“Kami nilai dia (Desiana) menghilangkan diri. Para dosen, kalau ada kegiatan di luar, pasti melaporkan ke fakultas. Tapi ini tidak. Agak mengherankan,” kata Wakil Dekan II Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman, Awang Yusrani.

Pengajar di Fakultas Pertanian pun dibuat bertanya-tanya tentang keberadaan Desiana sebenarnya, termasuk rekan-rekannya yang tinggal di mess dosen. Hilangnya Desiana pun sudah disampaikan kepada keluarganya di Balikpapan.

“Keluarganya juga kaget. Tidak tahu juga keberadaannya. Informasi terakhir, sudah dilaporkan ke kepolisian di Balikpapan. Kalau tidak ada tindak lanjut, akan lapor ke Polda (Polda Kaltim di Balikpapan-red),” ujar Awang.

Keseharian sang dosen menurut Awang, berkepribadian tertutup dengan rekan sesama dosen di fakultas. Namun demikian, kepada mahasiswa, yang bersangkutan layaknya dosen pada umumnya dan termasuk dosen yang tertib.

“Dia tidak pernah bercerita, kalau mungkin ada masalah. Di fakultas, dia tidak pernah bermasalah. Tidak ada gejala aneh, kok drastis hilang seperti ini?” ucap Awang.

“Kalau dalam pemberian materi kepada mahasiswa, bagus saja. Memberikan bimbingan dan praktik, bagus saja. Telepon selularnya sudah tidak bisa dihubungi,” tambah Awang.

Meski demikian, Awang menyatakan pihak fakultas tidak langsung memberi sanksi kepada Desiana. Sebab, hal itu mesti dilalui secara prosedural.

“Kami sudah berikan surat peringatan (SP) pertama. Kalau sudah 3 kali SP, tetap tidak diketahui keberadaannya, baru kami akan lapor ke rektorat. Tapi kami juga bingung mau menunjukkan SP itu ke mana,” jelas Awang.

[ary]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge