0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Banyak Perusahaan Plat Merah Masih Ajukan PMN

dok.timlo.net/ist
Anggota Komisi XI DPR RI, Mohammad Hatta (dok.timlo.net/ist)

Solo – Banyak perusahaan ‘plat merah’ di Indonesia masih mengharap bantuan dari pemerintah melalui APBN. Padahal, mereka diharapkan memberi kontribusi bukan malah membebani.

“Ini patut disayangkan lantaran mereka (perusahaan pemerintah —Red) masih mengajukan Penyertaan Modal Negara (PMN),” terang anggota Komisi XI DPR RI, Mohammad Hatta, Selasa (5/4).

Menurut politisi Partai Amanat Nasional (PAN) itu, PMN yang dilakukan terus menerus tidak akan membuat BUMN menjadi sehat. Sebaliknya BUMN tidak memiliki semangat untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar karena berfikir bahwa finansialnya pasti ditopang oleh APBN. Terlebih masih ada yang hingga kini pemasukan untuk negara lebih kecil dibandingkan penyertaan modalnya.

“Ini yang parah, harusnya menambah penerimaan malah menggerogoti APBN,” tandasnya.

Sebenarnya, lanjut Hatta, ada formula lain yang dapat menjadi solusi dari ketergantungan BUMN terhadap anggaran negara. Yakni, dengan pengoptimalan BUMN di sektor perbankan. Menurutnya, anggaran PMN lebih baik digelontorkan ke bank pemerintah, sedangkan BUMN yang berniat menambah modal tinggal menemui pihak perbankan sebagai hubungan bisnis. Dengan begitu akan muncul keuntungan dua arah.

“Pihak bank pastinya akan mendapatkan tambahan suntikan dana, sedangkan BUMN dapat belajar mengatur perusahaannya,” paparnya.

Pendapat tersebut diamini Anggota VII BPK RI, Achsanul Qosasi. Ia berharap dengan anggaran sebesar itu pemimpin BUMN dapat secara cerdas memanfaatkan modal yang telah diberikan negara. Memang tidak mudah mengelola sumber kekayaan negara tersebut namun setidaknya BUMN dapat melakukan penggunaan anggaran dengan meminimalisir kesalahan. Pasalnya kesalahan yang dilakukan sudah dipastikan akan terbongkar oleh BPK. Disisi lain ia mengapresiasi BUMN yang terus meningkat pendapatannya tanpa harus merekayasa ataupun melanggar aturan.

“Sekarang Garuda contohnya, bisa merubah dari perusahaan rugi menjadi untung setelah pimpinannya diganti,” katanya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge