0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Nyoman Arianta, Penyandang Tunanetra yang Tetap Produktif

Nyoman Arianta (merdeka.com)

Timlo.net – Menjadi seorang tunanetra tidak menyurutkan semangat Nyoman Arianta (45) melakukan segala macam pekerjaan demi menyekolahkan adik dan keponakannya. Warga Banjar Bukit, Tampaksiring Gianyar Bali ini tak segan untuk memanjat kelapa, menganyam kerajinan bambu, mekanik radio, semua bisa dilakukan.

Dia menceritakan bagaimana kegiatan sebagai mekanik radio dilakukannya.

“Kalau tak melihat langsung, seperti yang saya lakukan sekarang ini mungkin tak kan percaya. Sebelum menyolder, alat solder dicolok dulu. Untuk memastikan solder sudah siap pakai, saya raba dulu, toh tak kan terbakar bila disentuh sebentar,” ungkapnya, Selasa (5/4).

Dia mengakui untuk memeriksa kerusakan radio ada sedikit kendala. Karena itu dia hanya membantu membongkar, menyolder beberapa komponen yang tidak sulit.

“Ini namanya Dioda, ini transistor. Nah, yang banyak kakinya ini namanya IC, sangat sulit bagi saya untuk memasangnya. Yang ini saya nyerah,” ujar Arianta sembari merapikan meja kerjanya.

Dia kemudian bergegas mengambil kantong tuak dan langsung menuju kebun kelapa yang dimanfaatkannya untuk produksi tuak. Setiap pohon, dia panjat tiga kali sehari. Paginya untuk menurunkan tuak, siangnya pengirisan batang buah dan sorenya mengganti kantong tuak.

“Saya punya pendengaran, rasa dan rabaan yang sensitif. Itulah keunggulan saya yang tidak bisa melihat ini,” ungkapnya.

Dengan gerakan yang sangat ahli, Arianta memanjat kelapa dengan ketinggian 10 meter dengan cepat.

“Saya bukannya ingin membuktikan agar orang percaya. Tapi saya cuma menunjukkan jika tunanetra seperti saya ini, biasa menjalani aktivitas seperti orang normal,” terang Arianta.

Anak ketiga pasangan I Wayan Kenceng (alm) dan Ni Made Sami ini mengisahkan bagaimana dirinya menjadi tunanetra. Menurutnya, dia terlahir secara normal.

Namun ketika berusia 2 tahun, dirinya menderita demam tinggi hingga pembuluh matanya pecah. Semenjak itu pula dirinya tidak lagi dapat menikmati indahnya pemandangan dunia.

Saat itu dia mengaku hidup harus dilayani orang tuanya. Karena itu dirinya tidak ingin hidup berdiam diri dan berupaya menjadi bagian keluarga yang hidup produktif.

“Syukurnya, hingga kini apa yang saya lakukan dapat menghasilkan uang dan membantu keluarga ini,” jelas dia.

[ary]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge