0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Waduh, Wartawan Bodrek Sudah Ada Sejak 60-an

diskusi Peningkatan Kapasitas Kehumasan yang digelar di Balai Tawang Arum, Kompleks Balai Kota Solo (ichsan rosyid)

Solo – Sejarah adanya wartawan abal-abal alias wartawan bodrek ternyata sudah sangat lama. Bahkan sejak tahun 60-an, sudah mulai bermunculan orang-orang mengaku-ngaku wartawan meskipun tidak bekerja di instansi media.

“Sejak tahun 60-an sudah ada perilaku seperti itu,” kata wartawan senior, Ari Kristyono dalam acara diskusi terbuka Peningkatan Kapasitas Kehumasan yang digelar Pemerintah Kota Solo di Balai Tawang Arum, Senin (4/4).

Kondisi tersebut tak lepas dari kondisi masyarakat waktu itu yang sangat takut aibnya tersebar di media massa. Kendati demikian, belum ada sebutan khusus untuk oknum-oknum yang berperilaku seperti itu.

“Baru tahun 80-an ada iklan bodrex yang menggambarkan pasukan yang siap datang menyerang, dan menang,” terangnya.

Di era orde baru, membedakan wartawan resmi dengan wartawan abal-abal bukan perkara sulit. Setiap wartawan resmi dipastikan membawa kartu anggota dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Sebab, di masa kepemimpinan Presiden Soeharto itu, setiap wartawan diharuskan menjadi anggota PWI.

“Zaman sekarang lebih sulit. Sudah banyak muncul perserikatan wartawan seperti Asosiasi Jurnalis Independen (AJI), dan wartawan tidak diwajibkan ikut organisasi kewartawanan,” kata dia.

Untuk membedakan wartawan bodrek dengan wartawan resmi, ia mengimbau agar narasumber memperhatikan perilaku wartawan tersebut. Ciri-ciri wartawan bodrek adalah orang yang menyalahgunakan profesi wartawan untuk memperkaya diri.

“Jadi mereka datang bukan untuk mencari informasi atau data tapi untuk cari uang,” kata dia.

Walikota Solo, FX Hadi Rudyatmo pun mengajak jajaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) untuk melawan wartawan-wartawan bodrek itu. Pasalnya, tak hanya merugikan negara karena harus mengeluarkan uang untuk mereka, wartawan bodrek juga merugikan publik lantaran hak mereka untuk memperoleh informasi yang jernih juga tidak dapat terpenuhi.

“Kalau ada wartawan bodrek nggak usah takut. Jangan dilayani,” tegasnya.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge