0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Wedangan, Dulu dan Sekarang

foto: Setyo
(foto: Setyo)

Timlo.net – Jalan-jalan di Kota Solo rasanya kurang lengkap tanpa mencicipi kuliner wedangan, juga biasa disebut hik (orang sering mengartikan istilah ini sebagai akronim dari hidangan istimewa kampung)  yang bisa ditemui di sejumlah tempat.

Wedangan, dulunya selalu berupa gerobak atau pikulan yang sarat makanan, plus tiga ketel air yang memungkinkan penjualnya menyiapkan aneka wedang (minuman panas) seperti teh, wedang jahe dan sebagainya.

Ada tren usaha di Solo yang tengah berlangsung, sejumlah pebisnis kuliner memadukan konsep resto atau cafe dengan wedangan. Hasilnya, sebuah tempat nyaman untuk makan minum dan bersantai bersama sahabat atau keluarga.

Bisbro Resto lan Wedangan di Jalan Letjen Suprapto, Sumber, adalah salah satunya. Tempat tersebut tidak hanya menawarkan tempat nongkrong yang nyaman bagi pengunjung, melainkan juga varian menu wedangan yang sangat menggugah selera.

“Ada beragam menu yang kita tawarkan, mulai dari nasi rawon, garang asem, nasi bandeng,gorengan, es dawet dan lainnya,” ujar salah satu owner Bisbro resto lan wedangan, Citra Andini kepada Timlo Magz.

Alasan menghadirkan konsep resto dan wedangan karena karakteristik masyarakat Solo yang komunal. Sehingga tidak cukup hanya dengan menyajikan masakan, tapi juga diperlukan tempat yang nyaman.

Dengan sentuhan  modern-klasik, bagian dalam rumah,  memiliki konsep museum. Meja, kursi, hiasan dinding dan ornamen lainya dibuat sedemikian rupa sehingga memberikan kesan tempoe doloe. Sementara itu di bagian luar, dibuat layaknya cafe, sehingga nyaman bagi mereka yang ingin menghabiskan waktu sambil menghirup udara segar saat menikmati olahan menu yang disajikan.

“Melalui suasana ini setidaknya kita ingin mengajak para generasi sekarang dapat mengenal sejarah Indonesia secara lebih dekat. Terlebih bisa mencicipi masakan tradisional khas Solo,” jelasnya.

Tak hanya itu, dalam resto miliknya tersebut juga diberikan sentuhan edukatif lainnya bagi para pengunjung. Yaitu setiap satu bulan sekali digelar kelas soft skill  kewirausahaan, serta disediakan paket city tour keliling kota Solo.

“Konsep edukatif ini yang menjadi pembeda antara resto wedangan kita dengan yang lain,” ungkapnya.

Sementara itu tak jauh berbeda dengan wedangan milik grup Tiga Tjeret, Playground. Berlokasi di Jalan Kenanga, Badran, Purwosari, rumah makan yang menawarkan beragam masakan khas wedangan tersebut dikemas layaknya cafe agar pengunjung bisa merasa nyaman.

“Tujuanya memang kita tidak hanya ingin jual makanan, tapi juga tempat nongkrong bagi pengunjung,” terang Pengelola Playground, Fajar Sakti Riyanto belum lama ini.

Di tempat makan miliknya tersebut, para pengunjung tidak hanya bisa mecicipi beragam masakan wedangan khas Solo, melainkan juga dimanjakan dengan berbagai hiburan dan fasilitas pendukung lainya, seperti live musik, warnet dan juga Wifi.

Dengan konsep wedangan yang dibuatnya itu, ia mengaku cukup berhasil menyedot para pengunjung. Dibuka mulai dari jam 12.00 WIB – 00.00 WIB, perhari rata-rata pengunjung bisa mencapai 400 orang dengan omset hingga jutaan rupiah.

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge