0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Produksi Berkurang, Petani Pangkas Dahan Mawar

dok.timlo.net/nanin
Petani bunga mawar (dok.timlo.net/nanin)

Boyolali — Petani bunga mawar di wilayah Desa Sruni, Kecamatan Musuk, Boyolali, mulai memangkas dahan, menyusul turunya produksi tanaman mawar. Selain itu, pemangkasan dahan dilakukan agar saat bulan Ruwah (penanggalan Jawa) bisa berbunga dengan maksimal, menyusul tingginya permintaan bunga mawar saat bulan Ruwah.

“Kalau sudah dipangkas, nanti bakal tumbuh tunas baru, bunganya bisa banyak,” kata Sabar (40) petani bunga mawar, Senin (4/4).

Tanaman yang telah dipangkas, dalam kurun waktu 50 hari bakal berbunga. Sehingga saat berbunga, bertepatan dengan bulan Ruwah. Diakui Sabar, saat bulan Ruwah, petani bunga mawar bisa meraup keuntungan besar. Pasalnya, harga bunga menjadi sangat mahal.

“Kalau Ruwah, satu keranjang besar bisa laku Rp 150 ribu, tapi kalau hari biasa paling banter Rp 25 ribu,” tambahnya.

Hal senada diungkapkan Mulyono (36). Disebutkan, bulan Ruwah adalah bulan menguntungkan bagi petani bunga mawar. Selain harga tinggi, permintaan bunga dari luar kota juga mengalami peningkatan. Kalau hari-hari biasa, bunga mawar kebanyakan dijual di pasar lokal.

“Ada juga yang dibawa ke Solo, tapi paling cuma sedikit,” tambahnya.

Pihaknya berharap, panen nanti bisa menghasilkan bunga mawar banyak. Petani sendiri biasa menanam bunga mawar di ladang. Tanaman mawar yang paling banyak ditanam yaitu mawar putih dan merah. Sedangkan mawar jambon, tidak banyak yang menanam.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge