0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Ketua Paguyuban Angkuta Ngaku Dipersulit Bayar Pajak

Sjumlah sopir angkuta menggelar aksi damai di halaman DPRD Solo (dok.timlo.net/achmad khalik)

Solo – Ratusan angkuta di Kota Solo tidak memiliki surat izin beroperasi. Pasalnya, saat melakukan pengurusan izin operasi mereka terbentur dengan sejumlah persyaratan mutlak yang harus dipenuhi.

“Kami ini mau mbayar pajak kendaraan plat kuning saja dipersulit. Padahal juga sudah tergabung dalam lembaga yang berbadan hukum,” tandas Ketua Paguyuban Angkuta Solo, Suparjo, Rabu (30/3).

Diungkapkan, sejak 31 Desember 2015 angkuta di Kota Solo yang tidak tergabung dalam koperasi bentukan Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kota Solo seakan-akan dipersulit dalam pengurusan pajak kendaraan. Sehingga, banyak di antara kendaraan plat kuning tersebut yang mati pajak. Meski begitu, mereka tetap beroperasi tanpa dilengkapi dengan kelayakan surat berkendara.

“Mau bagaimana lagi, ini demi anak dan istri,” jelas Suparjo.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dishubkominfo Kota Solo Yosca Herman Sudrajad mengatakan, pihaknya sama sekali tidak mempersulit. Namun, aturan yang ditetapkan berdasarkan Permendagri No.101 tahun 2014 tentang perhitungan dasar pengenaan pajak kendaraan bermotor dan bea balik nama kendaraan bermotor tahun 2015 harus melalui Badan Layanan Usaha Daerah (BLUD). Meski dalam pengurusannya melalui perkumpulan lembaga hukum tetap tidak akan disetujui.

“Maka dari itu kami upayakan semaksimal mungkin supaya angkuta di Kota Solo layak dalam pengurusan pajak kendaraan,” terang Yosca.

Yosca mengimbau kepada pemilik angkutan, supaya bergabung dengan Koperasi Bersama Satu Tujuan yang dibentuk Dishubkominfo Kota Solo dalam hal pengurusan surat-surat kendaraan plat kuning. Yosca juga menekankan, supaya mereka tidak khawatir  dengan revitalisasi jalur angkuta yang menjadi tuntutan mereka.

“Kita kesampingkan dulu untuk masalah revitalisasi. Yang menjadi perhatian, bagaimana mereka (pemilik angkuta —Red) masuk dalam koperasi terlebih dahulu. Supaya kendaraan angkuta yang mati dapat hidup kembali dan tetap menjadi plat kuning,” kata Yosca.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge