0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Warga Eks Gafatar Lebih Pilih Home Schooling daripada Sekolah Umum

Disdikpora kesulitan bujuk orang tua eks Gafatar untuk menyekolahkan anaknya di sekolahan umum (foto: Nanin)

Boyolali – Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Boyolali mengakui sejauh ini masih kesulitan membujuk warga eks Gafatar agar menyekolahkan anaknya. Warga eks Gafatar tetap bersikukuh menerapkan metode Home Schooling seperti yang diterapkan saat hijrah di Kalimantan.

“Kita sudah melakukan pendekatan, baik saat masih ditampung di Asrama Haji atau saat sudah dipulangkan. Mereka belum mau membuka diri,” kata Kepala Disdikpora Boyolali, Abdul Rahman, Sabtu (26/3).

Padahal, pihaknya sudah siap memfasilitasi untuk pendidikan anak-anak mereka di sekolah. Pihaknya bahkan sudah melakukan koordinasi dengan pihak sekolah inklusi dan sebagai besar menyatakan siap menerima anak-anak eks Gafatar.

Mantan pengikut Gafatar sejauh ini tetap memilih untuk tetap menerapkan metode home schooling bagi anak-anak mereka. Sejauh ini, Disdikpora Boyolali belum mendapat satu pun laporan dari daerah ada anak-anak eks Gafatar yang hendak masuk ke sekolah baik swasta maupun negeri.

“Mereka memilih tenaga pendidik sendiri untuk home schooling. Mungkin dari kalangannya,” tambah Abdul.

Di sisi lain, pihaknya juga tidak akan memaksa. Namun, tetap akan memfasilitasi jika di kemudian hari ada anak eks Gafatar yang hendak menempuh pendidikan di sekolah.

“Atau hanya mengikuti ujian paket A, B atau C, kita siap memfasilitasi,” ujarnya.

Salah satu mantan anggota Gafatar yang tinggal di Desa Ketaon, Banyudono, Boyolali, Suhenda (35) menegaskan, untuk urusan sekolah, anak-anak mantan pengikut Gafatar mengikuti metode home schooling. Bukan karena tidak percaya pada pendidikan di sekolah umum, tapi sekolah di rumah dinilai lebih baik dan mudah dipantau.

“Home schooling program kami, teman-teman (eks Gafatar) banyak yang memiliki latar belakang pendidik,” ungkapnya.

Data di Kesbangpolinmas tercatat ada 48 eks Gafatar berasal dari Boyolali. Mereka berasal dari kecamatan Juwangi, Wonosegoro, Simo,Klego, Cepogo dan Banyudono. Saat ini mereka sudah berada di kampung halaman masing-masing.

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge