0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Mengenali Gejala Tuberculosis pada Anak

dok.timlo.net/tyo eka
Talkshow Tuberculosis di RS PKU Muhammadiyah Solo (dok.timlo.net/tyo eka)

Solo – Rumah Sakit  (RS) PKU Muhammadiyah Surakarta menggelar talkshow Tuberculosis (TB), menghadirkan narasumber dr Oktora Wijayanto SpA terkait TB Anak, dilanjutkan diskusi. Bersamaan dengan itu dilakukan pembagian masker, stiker dan leaflet TB.

“Tema yang diketengahkan adalah Gerakan “Temukan TB, Obati Sampai Sembuh (TOSS TB),” jelas Humas RS PKU Muhammadiyah Surakarta, Betty Andriani saat bertemu Timlo.net, di rumah sakit setempat, Solo, Jumat (25/4).

Betty mengemukakan, talkshow digelar untuk memperingati Hari TB Sedunia, sekaligus memberikan pemahaman tentang TB kepada masyarakat umum, terutama pasien, keluarga dan pengunjung, khususnya sesuai tema hari TB sedunia tahun 2016, yakni “Unite To End TB”, sedangkan diterjemahkan di Indonesia menjadi “Gerakan Bersama Menuju Indonesia Bebas TB” melalui Gerakan “Temukan TB, Obati Sampai Sembuh (TOSS TB)”.

dr Oktora Wijayanto SpA mengemukakan, TB anak adalah penyakit TB yang terjadi pada anak usia 0-14 tahun. Biasanya orang awam menyebutnya sebagai flek paru.

“Jika pengobatan teratur, sampai selesai, maka TB bisa disembuhkan,” tandasnya.

Menurut Oktora, sumber penularan adalah pasien TB paru BTA positif, baik dewasa maupun anak. Namun anak yang terkena TB tidak selalu menularkan pada orang di sekitarnya, kecuali anak tersebut BTA positif atau menderita adult type TB.

Lebih lanjut ia mengatakan, faktor risiko penularan TB pada anak tergantung dari tingkat penularan, lama pajanan, daya tahan pada anak. Pasien TB dengan BTA positif memberikan kemungkinan risiko penularan lebih besar daripada pasien TB dengan BTA negatif.

“Beban kasus TB Anak di dunia tidak diketahui karena kurangnya alat diagnostik yang “child-friendly” dan tidak adekuatnya sistem pencatatan dan pelaporan kasus TB Anak,” ungkapnya.

Oktora lagi mengatakan, gejala TB anak tidak spesifik, namun dalam menegakkan diagnosis TB pada anak, semua prosedur diagnostik dapat dikerjakan, namun apabila dijumpai keterbatasan sarana diagnostik yang tersedia, dapat menggunakan suatu pendekatan lain yang dikenal sebagai sistem scoring, seperti kontak erat dengan pasien TB serumah/ di lingkungan rumah, Uji tuberculin/ Mantoux test (dilihat indurasi/ bendol di tempat suntikan dalam waktu 48 – 72 jam), Status gizi anak (BB tidak mau naik, mesti dengan gizi yang cukup), Deman lama lebih dari 2 minggu, Batuk lebih dari 3 minggu, Pembesaran kelenjar getah bening, biasanya daerah leher yang multiple, ukuran > 1 cm, Foto rontgen dada menunjukkan TB.

“Anak dengan gejala-gejala tersebut di atas dibawa ke dokter, dan dilakukan pemeriksaan untuk menentukan apakah anak terdiagnosis TB atau tidak,” jelasnya.

Menurut dokter spesialis anak itu, jika ada anak yang kontak erat dengan pasien TB aktif, diperiksakan ke faskes/ dokter apakah anak sakit TB atau tidak. Jika sakit akan diobati, jika tidak akan diberikan pengobatan pencegahan/ profilaksis.

“Pengobatan TB Anak dilakukan selama 6 – 12 bulan,” ungkapnya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge