0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Lima Lokasi di Giriwoyo Ini Dipercaya Masih Angker

foto: Tarmuji
Watu Bathok satu diantara lima lokasi ritual di Desa Pidekso. (foto: Tarmuji)

Wonogiri – Lima lokasi di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Pidekso, Kecamatan Giriwoyo masih wingit (Angker). Banyak orang sering memakainya untuk kegiatan ritual. Kelima lokasi ini meliputi Watu Amben, Watu Langkah, Song Putri, Song Bathok dan Watu Tinatah.

Dipercaya, lokasi ini terbentuk lantaran daya cipta jaman para wali yakni Sunan Kalijaga. Ada pula cerita heroik kepahlawanan Jenderal Sudirman di masa penjajahan Belanda.

Untuk mencapai satu lokasi ke lokasi berikutnya, kita hanya bisa berjalan kaki menyusuri tepian sungai. Kendaraan hanya bisa sampai di Desa Pidekso.

Dari Kota Kecamatan Giriwoyo, berjarak sekitar 10 kilometer arah timur. Sesampainya di Desa Pidekso, medan yang akan dilalui cukup ekstrim. Selain menyusuri tepian sungai, pengunjung harus melintas bebatuan terjal.

“Dari cerita para sesepuh dulu, lokasi ini merupakan petilasan Sunan Kalijaga dan juga Penembahan Senopati. Bahkan di lokasi itulah Panembahan Senopati melakukan ritual Topo Ngrame atau semedi,” tutur pakar spiritual muda, Rani Mahesa, Jumat (25/3).

Dia membeberkan, dalam perjalanan wisata gaib yang ia pernah lakoni di tempat tersebut, kelima lokasi ini memiliki daya magis tinggi. Di lokasi pertama yakni Watu Amben atau ranjang, konon Sunan Kalijaga dan Penembahan Senopati melaksanakan ibadah salat.

Kala itu, Sunan Kalijaga tengah dalam perjalanan syiar agama Islam di wilayah timur yakni  di Gunung Gedhe. Kemudian Song Bathok, Song atau kerap disebut gua ini terletak di bibir jurang batu yang berdiri disepanjang sungai Pidekso. Gua tersebut juga diyakini  memiliki aura yang menyejukkan.

Selanjutnya, Watu Langkah dan Song Putri. Bebatuan ini juga diyakini menyimpan sejarah.

“Dari Watu Amben kita naik lagi ke atas, yakni menuju Watu Tinatah. Lokasi ini daya magisnya sangat tinggi sekali. Bahkan masih kerap muncul penampakan sosok- sosok gaib yang berpakaian adat Jawa,” ungkapnya.

Diceritakan, Watu Pinatah sendiri merupakan sebuah batu besar yang terdapat guratan seperti bekas pahatan,dengan lebar ukuran sejengkal tangan orang dewasa.

“Ceritanya, saat Kanjeng Sunan hendak berangkat menuju Gunung Gedhe, batu tersebut menghalangi jalan keduanya. Dengan karomah yang diberikan Allah kepada Sunan Kalijaga, kemudian dengan tongkatnya, batu tersebut dikikis untuk membuat jalan, dan akhirnya terciptalah sebuah jalan setapak di atas batu besar itu,” jelasnya.

Di jaman penjajahan kolonial Belanda, lokasi- lokasi ini dijadikan tempat persembunyian Jenderal Sudirman pada masa perang gerilya.

Kebanyakan, pelaku ritual yang kerap sering singgah berasal dari Solo, Yogyakarta dan dari Jakarta. Seiring waktu berjalan, dengan adanya pembangunan Waduk Pidekso, lokasi tersebut nantinya bakal tenggelam.

“Di tempat itu biasanya digunakan sebagai tempat ngalap berkah, untuk memohon pangkat, derajat dan bahkan untuk kadigdayan,” ujarnya.

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge