0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

SMA PGRI 1 Wonogiri Kini Tinggal Kenangan

dok.timlo.net/tarmuji
Sutardi, Kepala SMK Bhakti Mulia Wonogiri (dok.timlo.net/tarmuji)

Wonogiri — Era 1990-an, SMA PGRI 1 Wonogiri sempat menikmati masa kejayaannya. Saat itu, muridnya mencapai 1000 lebih. Seiring waktu berjalan, SMA PGRI 1 Wonogiri bermetamorfosa menjadi SMK Bhakti Mulia atau kerap disebut SMK Farmasi.

Tak banyak orang yang tahu, jika SMA yang terletak di Lingkungan Joho, Kelurahan Giriwono dan dinaungi Yayasan PGRI ini merupakan almamater sederet nama birokrat yang kini menduduki jabatan strategis di Pemkab Wonogiri dan DPRD Wonogiri. Salah satu alumninya adalah Wakil Bupati Wonogiri Edy Santosa.

Namun, di penghujung tahun 1999, sekolah ini pun kehabisan murid. Tinggal dua kelas, yakni kelas II dan kelas III dengan total siswa 34. Bahkan nyaris aset sekolah dikembalikan ke Pemkab, lantaran sekolah tersebut mulai ditinggalkan.

Persaingan dunia pendidikan yang saat itu mulai ketat, dengan munculnya SMK-SMK di sejumlah wilayah, khususnya di Wonogiri Kota menjadi indikator dialihfungsikan sekolah tersebut.

Tak lepas dari jerih payahnya, salah satu tenaga pendidik yang kala itu merupakan guru PNS yang diperbantukan di SMA PGRI 1 adalah Sutardi yang kini menjabat sebagai Kepala SMK Bhakti Mulia.

“Awal mulanya saya dan rekan-rekan tenaga pendidik sudah merancang sekolah farmasi ini sejak tahun 1988, sebelum sekolah PGRI ditinggalkan peminatnya. Setahun kemudian, barulah sekolah farmasi ini resmi didirikan,” ungkap Sutardi saat dijumpai di ruangannya, Rabu (23/3).

Tak mudah untuk mendirikan sekolah. Berbagai penolakan muncul. Salah satunya dari Yayasan PGRI sebagai pendiri. Dimana yayasan bersikukuh untuk mempertahankan keberadaan SMA PGRI. Namun hal itu tidak membuat Sutardi dan rekan patah arang. Semua lini ia masuki demi usulan dan saran agar cita-citanya tercapai.

“Saya saat itu berkonsultasi ke Disdik ,bahkan saya sowan saat itu Kepala DKK, yang saat itu masih dipegang Pak Aug Jarot,” jelasnya.

Sampai saat ini Sutardi masih ingat betul perkataan Kepala DKK itu. “Sampeyan iki lucu, wong ora duwe ilmu farmasi kok arep gawe sekolahan farmasi”

Tak mau kalah, ia pun menjawab perkataan Aug Jarot, “Lha nggih amargo kulo mboten duwe ilmu kulo ajeng nyuwun tulung panjenengan.” 

“Nah dari situlah saya diarahkan untuk memenuhi standar prosedur pendirian SMK Farmasi. Saya langsung dikenalkan dengan organisasi profesi yang berkompeten di bidang farmasi dan apoteker, sesuai dengan jurusan yang kami rintis nanti. Saya langsung dipertemukan dengan pengurus PAFI dan IAI,” terangnya.

Bahkan, dia menggandeng anggota PAFI dan IAI untuk bersama-sama berjuang membesarkan SMK Bhakti Mulia. Mereka pun direkrut menjadi tenaga pendidik.

Jangka waktu setahun, dia pun berjuang memperoleh legalitas SMK yang akan ia kembangkan di Wonogiri. Saat itu diakui bahwa jurusan farmasi merupakan jurusan satu-satunya yang ada. Selain itu dirinya pun enggan terlibat konflik penolakan jika merintis SMK dengan jurusan yang sama dengan sekolah lain.

“Selain bolak-balik mengurusi ijin ke Dinkes di propinsi dan pusat ,saya juga harus minta persetujuan tujuh sekolah yang ada,” ungkapnya.

Tak sia-sia usaha yang dilakoninya. Tahun 1999, SMK Bhakti Mulia pun resmi menerima siswa didik baru pada tahun ajaran baru. SMK ini pun menawarkan dua jurusan, yakni farmasi dan analis. Hingga saat ini sekolah yang ia rintis mendidik sekitar 500 murid.

“Di tahun pertama kita berdiri, kita memperoleh nilai akreditasi A. Suatu prestasi yang membanggakan,” terangnya.

SMK Bhakti Mulia telah meluluskan lima kali. Mereka pun telah banyak bekerja di berbagai kota di Pulau Jawa, seperti di Jakarta, Yogyakarta dan Surakarta.

“Kami berkomitmen pada anak Didik saya, kamu lulus SMK harus bisa bekerja. Paling tidak menjadi wirausaha di bidang obat-obatan .Selain itu kita juga sudah menandatangani MoU dengan perusahaan farmasi dan apoteker, anak didik kita langsung kita salurkan,” tandasnya

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge