0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Sriniwati, Saksi Hidup Bedol Desa Waduk Gajah Mungkur

timlo.net/tarmuji
Sriniwati menunjukkan ijazah juru rawatnya (timlo.net/tarmuji)

Wonogiri — Siapa sangka wanita sepuh ini masih jelas mengenang peristiwa puluhan tahun silam, bedol desa alias transmigrasi. Dia merupakan saksi hidup, ribuan warga Wonogiri yang terdampak pembangunan Waduk Gajah Mungkur (WGM) itu.

Namanya AL Sriniwati. Saat itu, dia berdinas sebagai perawat di Djawatan Kesehatan Rakyat (DKR), yang kini menjadi Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK). Satu hal tak pernah ia lupakan, dirinya merupakan satu dari diantara dua perawat di Wonogiri yang mengawal keberangkatan peristiwa bersejarah itu.

Sekitar tahun 1977 tepatnya bulan Juni, ribuan warga terdampak pembangunan Waduk Gajah Mungkur diberangkatkan. Tujuan transmigrasi adalah Pulau Sumatra, seperti Lubuk Linggau, Padang Panjang, Deli Serdang, dan Bengkulu.

Kenangan berkesan tersebut masih terekam jelas dibenak wanita kelahiran Sleman, DIY, 1 Januari 1933 ini. Ia ditugaskan Pemkab Wonogiri untuk mengawal kesehatan para transmigrasi sampai lokasi tujuan. Dua kali dalam setahun dia mengawal ribuan jiwa bedol desa, mencari penghidupan baru di Pulau Sumatra.

“Tanggal 1 Juli 1977 saya mengawal 500-an transmigrasi ke Sumatra, saat itu saya hanya berdua, sesama perawat yang ditugaskan Pemkab Wonogiri mengawal dan memantau kesehatan para transmigrasi asal Wonogiri hingga tujuan,” terang mantan Kepala Puskesmas Eromoko ini.

Dalam perjalanan pertamanya, selama sepekan, berbagai peristiwa dilalui. Dengan bekal keyakinan Sriniwati meninggalkan suami dan keenam putranya demi tugas negara. Suaminya, almarhum Y Sudarno juga berdinas di djawatan yang sama. Bedanya, sang suami menjabat kepala tata usaha, sedang Sriniwati sebagai perawat.

“Dulu, kantor transmigrasi di Transito Wonokarto, yang sekarang digunakan sebagai Kantor Dispertan. Para transmigran diangkut dengan bus ke Jebres, Solo. Sesampainya di Solo ditampung dulu, kemudian kita periksa kesehatannya. Kemudian esoknya diberangkatkan ke Jakarta menggunakan kereta api dari stasiun Jebres,” jelasnya.

Sesampainya di Jakarta, para transmigran tidak langsung diberangkatkan. Namun terlebih dahulu diistirahatkan di sebuah penginapan. Selang sehari barulah diberangkatkan menggunakan kapal laut melalui pelabuhan Tanjung Priok Jakarta dengan tujuan Teluk Bayur, Padang.

“Kalau tidak salah tiga hari tiga malam dilautan. Kondisi kapal saat itu pun pengap dan saat turun hujan bocor,” ujarnya.

Setelah sampai tujuan, dan kondisi para transmigrasi dalam keadaan sehat, Sriniwati lantas kembali ke Wonogiri. Selang beberapa bulan kemudian dia kembali dipercaya mengawal rombongan transmigrasi ke tujuan yang sama. Namun, perjalanannya dari Wonogiri ke Sumatera bukan melalui laut, melainkan jalan darat. Hampir 12 hari diperjalanan, dia masih hafal selama diperjalanan darat tersebut. Mereka diangkut menggunakan bus malam ALS menyusuri jalan di tengah perkebunan karet dan kelapa sawit.

“Waktu itu jalan darat, entah berapa kali bus yang kita tumpangi harus menyeberangi sungai besar. Bahkan sempat bermalam untuk antri di penyeberangan itu,” kenangnya.

Wanita lulusan juru rawat RSU Djebres, Surakarta 11 Juli 1956 ini menceritakan, semua pengalaman dari Wonogiri hingga Sumatera ditulis dalam sebuah buku agenda miliknya. Detik demi detik peristiwa semua ia tulis .

Sriniwati sendiri menjabat terakhir sebagai Kepala Puskesmas Eromoko. Namun, saat itu pemerintah belum mampu membangun gedung kantor puskesmas. Pemerintah meminjam sebagian rumah miliknya untuk kantor Puskesmas. Dengan ketulusan hatinya, dia memberikan pelayanan kepada masyarakat dipelosok Eromoko.

“Saya memberikan pelayanan baik orang sakit, mau melahirkan atau sunatan. Tidak seperti saat ini, dulu itu karena masyarakat kita itu masih miskin ya mbayarnya ada pakai yang pisang satu tandan, ada yang pakai ketela. Ya terus bagaimana lagi wong keadaannya juga tidak ada,” katanya.

Pada tahun 1990, Sriniwati purna tugas, namun pengabdian sebagai juru rawat tetap dikenang masyarakat. Sementara itu, jasa pengabdiannya jika dihitung dengan rupiah tidak sepadan dengan gaji yang ia terima.

“Memang waktu itu gaji sebagai PNS tidak seberapa, tapi itu semua saya syukuri, nyatanya enam anak saya bisa kuliah semua,” tambahnya.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge