0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Karanganyar Target Bentuk 20 Desa Mandiri Sampah

dok.timlo.net/nanang rahadian
TPA Sukosari, Jumantono, Karanganyar (dok.timlo.net/nanang rahadian)

‪Karanganyar – Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Karanganyar menargetkan terbentuknya 20 Desa Mandiri Sampah tahun ini. DKP menjanjikan bantunan dana dan sarana prasarana bagi desa yang siap mengelola sampah secara mandiri.

“Sudah ada tiga desa yang menjadi percontohan Desa Mandiri Sampah. Yakni Desa Buran, Kecamatan Tasikmadu, Kelurahan Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu, dan Desa Selokaton, Kecamatan Gondangrejo,” kata Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Karanganyar Titis Sri Jawoto, Jumat (18/3).

Pengelolaan sampah di tiga desa itu sudah dilakukan secara mandiri oleh masyarakat setempat. Bahkan bisa menghasilkan uang dengan cara memilah sampah dan dikelola menjadi pupuk organik yang mempunyai nilai ekonomi.

“Beberapa jenis sampah mempunyai nilai ekonomi yang lumayan tinggi,” katanya.

Konsep Desa Mandiri Sampah tersebut awalnya dikembangkan secara swadaya oleh masyarakat. Namun karena hasilnya cukup membantu dalam menangani sampah, DKP mendukung penuh program tersebut. Mengingat kemampuan DKP dalam menangani sampah semakin terbatas.

”Minimal sediakan lahan 10-20 meter persegi untuk gudang pengolah sampah sekaligus alat pencacah sampahnya. Atau masyarakat cukup menyedekahkan sampahnya ke DKP. Sampah yang disedekahkan itu tentunya sampah yang sudah dipilah antara sampah kering organik dan anorganik,” tandasnya.

Terpisah, Koordinator Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Maju Lancar Desa Buran, Sriyatno mengungkapkan, pengelolaan bank sampah di Desa Buran sudah sejak satu tahun terakhir. Pemilahan sampah dimulai sejak warga membuangnya di tong sampah khusus organik. Tempat sampah ini tersedia di tiap enam rumah tangga. Kemudian, sampah tersebut diambil petugas penarik sampah menuju fasilitas pengolah sampah terpadu.

”Di sinilah sampah dari masyarakat dipilah berdasarkan materi organik dan anorganik sebelum diproses lebih lanjut. Baru kemudian sampah organik dimasukkan ke alat pencacah supaya menghasilkan ukuran lebih kecil,” jelas Sriyatno belum lama ini.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge