0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Anak Berhadapan dengan Hukum Didominasi Kasus Persetubuhan

timlo.net/aditya wijaya
Kepala Kejaksaan Negeri Klaten Sugeng Hariadi memberikan kuliah perdana Jaksa Masuk Sekolah di SMPN 2 Wonosari (timlo.net/aditya wijaya)

Klaten — Program Jaksa Masuk Desa (JMS) diharapkan dapat menekan angka anak berhadapan dengan hukum (ABH). Pasalnya, di Kabupaten Klaten ada kecenderungan ABH meningkat setiap tahunnya.

“ABH itu banyak, baik sebagai korban maupun pelaku. Ini tidak semakin turun tapi malah naik. Harapan kami dengan JMS generasi muda tambah wawasan dengan mengenali hukum dan menjauhi hukuman,” tutur Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Klaten Sugeng Hariadi, Kamis (17/3).

Dalam peluncuran program JMS di SMP 2 Wonosari, kata dia, kasus yang menimpa ABH didominasi persetubuhan. Pelaku rata-rata telah cukup umur melibatkan anak-anak sebagai korban.

Selain itu, kasus penganiayaan atau kekerasan juga rawan terjadi pada anak-anak. Ia mencontohkan, tahun lalu terjadi kasus penganiayaan yang dilakukan siswa setingkat SMA. Mereka merekam aksinya di video dan diunggah ke media sosial. Ada juga kecelakaan lalu lintas yang melibatkan anak usia 15 tahun dan berujung penetapan tersangka.

”Persentase kami di tahun 2015 hampir 20 persen ABH di Klaten, ada sekitar enam kasus. Sangat mengkhawatirkan. Kita harus selalu dekat dengan anak-anak. Kalau tidak selalu intens turun ke sekolah untuk mengingatkan makin banyak anak-anak melanggar hukum,” kata Sugeng.

Seperti diketahui, JMS digulirkan sesuai nawacita Presiden Joko Widodo tentang kepribadian karakter bangsa. Direncanakan bakal digelar di 26 kecamatan dengan menerjunkan 24 jaksa Kejari Klaten. Selain itu akan disisipkan dengan pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn).

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge