0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

ASITA Siap Garap Visit ASEAN@50

ilustrasi wisata (dok.merdeka.com)

Timlo.net – Indonesia mendorong negara-negara ASEAN segera merealisasikan kerjasama di bidang pariwisata melalui program Visit ASEAN@50. Ketika level government (G to G) sudah rampung, tugas selanjutnya adalah industri.

Merekalah yang akan menterjemahkan dalam bisnis, seperti membuat harga bersama, paket bersama, promosi bersama, dan lainnya. Bisa dua negara satu destinasi, bisa pula 3 negara satu paket destinasi.

Menarik tidaknya paket-paket itu, tergantung pada kreativitas industri. Karena ini menyangkut strategi harga, keistimewaan atraksi, pemilihan destinasi, mengukur waktu, dan selera pasar yang dibidik.

“Kami siap untuk pertemuan lanjutan di level industri dengan pelaku bisnis pariwisata di ASEAN,” kata Ketua ASITA, Asnawi Bahar, seperti rilis yang diterima Timlo.net, Rabu (16/3).

Menurut Asnawi, pelaku industri memang harus diajak berembuk bersama negara-negara ASEAN itu.

“Agar jangan industri kita ditekan-tekan oleh negara tetangga, terutama soal harga. Kan, nanti promosi bersama-sama,” sebut Asnawi.

Menurutnya, Menteri Pariwisata, Arief Yahya telah memproyeksikan tingkat kunjungan wisatawan minimal harus tumbuh 20 persen dalam kurun waktu 5 tahun.

“Pariwisata harus ngebut, harus semangat, harus berlari cepat. Karena itu saya ikut tertantang dan bersemangat,” aku Asnawi.

Menpar Arief Yahya melihat program Visit ASEAN@50 itu sangat strategis. Kunjungan wisman ke Indonesia saat ini masih kecil, hanya 10,4 juta orang tahun 2015. Malaysia sudah 25 juta, Singapore 15 juta, Thailand 30 juta, total baru sekitar 80 juta. Ditambah dengan Filipina, Laos, Vietnam, Kamboja, Timor Leste, maka jumlahnya 107 juta.

“Artinya, kita ini minoritas di ASEAN sendiri, dalam hal tourism. Kita masih nomor 4, setelah Thailand, Malaysia, dan Singapore. Jumlah totalnya jika digabung, kita hanya 10 persen,” kata Menpar Arief Yahya.

Karena jumlahnya kecil minoritas, maka strategi yang terbaik menggabungkan potensi yang ada.

“Sehingga kita digandeng, ditarik oleh kekuatan tiga negara yang posisinya sudah di atas kita? Sedangkan ketiga negara itu, karena tidak ada yang dominan, maka saling membutuhkan, saling mempengaruhi. Maka dari itu, konsep ASEAN single destination ini menjadi masuk akal. Semua punya harapan,” kata Arief Yahya.  (*)

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge